Jumat, 13 Maret 2020

My Sex Story : Skandal Video Panas Calon Walikota (Part 04)

Foto : Dokter Zoya

Keesokan harinya, video rekaman itu diserahkan kepada Dokter Zoya. Sebagai bukti, video rekaman itu akan menjadi alat untuk membuktikan kepada publik bahwa Frederick adalah seorang politikus pecandu seks. Dan hari itu pun tiba, kampanye pencalonan Frederick untuk Pilkada berlangsung di suatu lapangan luas.

Dokter Zoya yang menyamar segera menuju tenda dimana operator layar tancap berada. Dokter Zoya menukar video visi misi dengan video rekaman tadi malam. Dokter Zoya tidak merasa dicurigai oleh orang-orang yang disana. Justru misinya berhasil dan momen menggemparkan siap dimulai.

Saat sedang mengamati seluruh peserta pawai dan kampanye, terlihat Frederick dan wanita asing yang diduga kekasihnya turun dari mobil. Dokter Zoya tanpa berkedip melihat mantan suaminya dari jauh, ia berharap hari ini menjadi miliknya. Begitu naik panggung, Frederick menyapa ribuan pendukungnya. Seperti biasa, yang namanya kampanye pasti banyak basa-basi sebagai pemanis janji.

Seusai menyampaikan kata-kata penuh obralan janji, Frederick memulai presentasenya di depan pendukung setia. Lalu, operator layar tancap segera mengambil VCD yang tadi ditukar oleh Dokter Zoya dan memutarnya. Begitu videonya muncul di layar, yang terlihat bukan video berisi visi dan misi. Dan alangkah terkejutnya penonton di sekitar lapangan melihat rekaman yang diputar itu.

Mereka menyaksikan adegan asusila yang diperankan oleh Frederick. Bahkan operator pun tidak menyangka akan jadi begini akhirnya. Frederick tidak menyangka bahwa video berisi visi dan misi ternyata memuat adegan porno. Frederick lantas diteriaki oleh pendukungnya sendiri, sambil menahan malu ia kabur dan penonton yang terpancing emosinya merangsek naik ke atas panggung untuk mengeroyok Frederick.

Massa pendukung mengobrak-abrik seluruh panggung dengan buasnya. Mereka kecewa dengan rekaman video tersebut, sambil mengobrak-abrik seisi panggung' mereka meneriakan caci-maki terhadap Frederick. Frederick kabur dari serbuan massa sambil menggandeng tangan kekasihnya. Frederick pulang ke rumahnya dan mencari dimana keberadaan kamera yang diduga terpasang dalam kamarnya.

Begitu sampai di rumah ia menggeledah seisi kamar, tapi tidak satu pun Frederick menemukan benda itu. Usut punya usut, kamera pengawas yang dipasang sudah dicopot dan Frederick tidak tahu siapa pelakunya.

Beberapa jam kemudian, Frederick menyalakan televisi dan ia tercengang melihat berita memalukan yang memperburuk kondisi.
Pemutaran video asusila dalam acara kampanye itu menjadi sorotan tajam dan tentu mengundang rasa malu bagi diri Frederick.

Tidak lama setelah kejadian itu, Frederick dipanggil oleh pengadilan atas kasus video asusila yang diputar pada saat kampanye. Sungguh luar biasa, Frederick sengaja mempersiapkan pengacara khusus untuk merampungkan kasusnya.
Kali ini dia mencoba untuk mengelak dari kasus itu, dia berkata bahwa lelaki di dalam video itu bukan dirinya.

Sidang Pengadilan kasus itu dimulai, Frederick mengaku cukup percaya diri bahwa video itu adalah rekayasa dan memakai orang lain yang mirip dengannya.
Akan tetapi Frederick tidak bisa membohongi Hakim karena setelah video itu diperiksa oleh tim kepolisian. Video itu memang diperankan oleh Frederick dan asisten wanitanya yang diduga menjadi pasangan serumah.

Puluhan pertanyaan dicecar oleh hakim di pengadilan, Frederick kembali mengelak semua tuduhan itu. Sorot matanya yang tajam membuktikan bahwa dirinya tidak takut terhadap siapa pun. Hakim dan para saksi sudah berusaha menekan intervensi yang dibuat oleh Frederick. Padahal waktu pelaksanaan Pilkada sudah hampir mulai karena tinggal 2 minggu lagi.

Persidangan memanas, Hakim sepertinya tidak mau mengalah.
Dan tanpa kenal ampun, Hakim memutuskan untuk memvonis hukuman 5 tahun terhadap Frederick. Frederick murka bukan kepalang, ia merasa Hakim belum bisa konsisten terhadap vonis yang dikeluarkan.

Tetapi, tidak ada cara lain selain segera memvonis Frederick yang secara nyata telah melakukan hal tidak senonoh macam itu. Akhirnya Frederick dipenjara untuk satu periode mendatang maka pupuslah harapannya untuk menjadi Walikota.

Sementara itu wanita yang diduga sebagai selingkuhan Frederick ternyata kabur ke luar negeri demi menghindari penangkapan. Konon kabarnya, wanita itu kini mengasingkan diri ke sebuah negara di kawasan Timur Tengah yang sedang dilanda perang.

Maka dengan kali ini, dendam Dokter Zoya pun terbalaskan. Dipenjarakannya Frederick merupakan obat penyembuh luka yang selama ini membekas. Seusai peristiwa itu, Dokter Zoya tidak pernah merasa galau lagi dan kembali bekerja tanpa ganjalan. Diceritakan, sehabis praktik di Rumah Sakit' Dokter Zoya mendapat pesan berupa Fax dari seseorang.

Begitu Fax diterima rupanya ini kiriman dari Marcell, pria yang sudah membantunya dalam aksi balas dendam tempo hari. Menurut isi Fax yang tercetak bahwa Dokter Zoya diharuskan hadir nanti malam untuk sekedar bertukar pikiran.

Tanpa rasa curiga, Dokter Zoya pun menyanggupi. Malam pun telah tiba, Dokter Zoya datang ke rumah Marcell. Ternyata Marcell sudah menunggu lama, mungkin sejak matahari terbenam. Nampaknya Marcell akan melakukan sesuatu hal yang membuat Dokter Zoya terkejut.

Dokter Zoya datang untuk menyanggupi permintaan Marcell yang tertera dalam fax.
Mereka bertemu dan ngobrol bersama hingga malam tiba, dan pada malam itu Marcell memberikan sesuatu untuk Dokter Zoya. Ternyata Marcell memberinya sebuah cincin emas untuk Dokter Zoya.
Dokter Zoya amat bahagia menerima cincin emas pemberian Marcell. Cincin emas itu merupakan bukti rasa cinta Marcell terhadap Dokter Zoya.
Bahkan Marcell memiliki keinginan yang amat lama dipendamnya. Ternyata Marcell ingin menikahi Dokter Zoya.

Dokter Zoya heran, kenapa Marcell mau dengannya meski berstatus janda ?
Akan tetapi Dokter Zoya tidak tahu harus bilang apa. Itulah yang namanya jawaban, kapan diberitahunya juga tergantung niatan.

Kemudian, Dokter Zoya mengajukan sebuah syarat agar mau dinikahi Marcell. Syarat itu adalah bahwa Dokter Zoya ingin pindah ke rumah Marcell setelah rumahnya dijual.
Marcell pun setuju, akhirnya beberapa bulan kemudian mereka berdua menikah. Proses pindah rumah pun terjadi. Sedangkan rumah lama Dokter Zoya terjual karena dianggap sudah bosan tinggal disitu.

Mereka pun bahagia berdua disana setelah masalah selesai.
Dokter Zoya tidak lagi sendiri begitu pun Marcell yang kini telah memiliki istri.

(TAMAT)

My Sex Story : Skandal Video Panas Calon Walikota (Part 03)

Foto : Dokter Zoya

Hari itu pun tiba, Frederick Batubara dan wanita yang diduga adalah kekasih tidak sahnya itu sedang menjalani wawancara eksklusif di salah satu stasiun televisi.
Dari dalam rumah, Dokter Zoya menatap tajam ke arah wanita yang merupakan tambatan hati mantan suaminya. Dia berharap Marcell bisa menjalankan tugasnya untuk membalas dendam.

Dokter Zoya segera menghubungi Marcell dan segara memerintahkannya menuju lokasi dimana target berada. Marcell langsung tancap gas dan mencari dimana keberadaan Frederick Batubara. Disitu, Marcell melihat sebuah mobil mewah yang diduga milik calon korbannya. Frederick Batubara baru saja keluar dari stasiun televisi setelah diwawancarai oleh wartawan.

Dengan kalimat penuh optimisme ia mengatakan bahwa dirinya pasti memenangkan pemilihan walikota dan merubah wajah kota menjadi lebih makmur.
Frederick Batubara tidak sadar dirinya diincar, lalu tanpa pikir panjang' Marcell memasang antena mikroskopik di bagian belakang mobil. Dan Frederick tidak tahu apa yang terjadi pada mobilnya itu.

Marcell melakukan hal yang sangat berbahaya, yakni mengintai gerak-gerik Frederick Batubara beserta wanita selingkuhannya.
Marcell memastikan semua aman dan siap sesuai rencana berdasarkan perintah Dokter Zoya.

Begitu Frederick Batubara masuk ke dalam mobil, wanita yang berada disampingnya juga ikut masuk. Salah seorang wartawan bertanya kepadanya mengenai wanita misterius yang duduk disamping Frederick. Dengan santai ia bilang bahwa wanita itu adalah asisten kerjanya karena banyak urusan yang perlu bantuan seorang asisten.

Kaca jendela tertutup, mobil yang dikendarai Frederick pun melaju menuju arah selatan.
Marcell yang sudah lama beraksi segera menyalakan monitor dari dalam mobilnya dan memantau dari dalam kokpit.
Kamera mikroskopik yang dipasang Marcell sangat canggih sehingga bisa menembus kaca mobil yang tebal untuk mengetahui sesuatu didalam mobil.
Dengan seksama, Marcell mendengarkan obrolan di dalam mobil antara kedua orang yang berdampingan itu.

Kemudian, Marcell terkejut mendengar obrolan Frederick dengan wanita itu. Rupanya sehabis wawancara di stasiun televisi, mereka berdua akan pulang ke rumah untuk melakukan sesuatu.
Marcell semakin penasaran, lalu dihubungilah Dokter Zoya yang baru saja selesai praktek di Rumah Sakit.

Marcell melapor bahwa Frederick Batubara dan wanita selingkuhan yang mengaku asisten kerjanya itu sedang menuju rumah.
Dokter Zoya memberi komando untuk selalu konsisten dan jangan sampai luput dari pengawasan.

Aksi spionase Marcell tidak berhenti sampai disitu, Marcell kembali melakukan sesuatu yang dianggap berisiko' yaitu melakukan pengawasan dari luar tanpa masuk ke dalam rumah.

Marcell Siahaan membuntuti mobil yang dikendarai Frederick Batubara. Begitu sampai di salah satu perumahan, Marcell tidak asing dengan daerah tersebut.
Bagaimana tidak ?

Perumahan itu merupakan salah satu aset miliknya, karena Marcell adalah konglomerat muda yang memiliki bisnis properti.
Tanpa curiga, Marcell membuntuti mobil itu dan memarkir mobilnya sembarang tempat. Lalu, Frederick dan wanita selingkuhannya itu keluar dari mobil sambil membawa koper lantas masuk ke dalam rumah.

Marcell keluar dari mobil dan menghampiri Pos Satpam, begitu sudah di depan Pos Satpam' salah satu satpam yang bertugas langsung mengenali wajah Marcell.
Sebab, satpam itu sudah lama kenal dengan Marcell dan kerap dipanggil dengan sebutan Bos.

Marcell lantas berbincang dengan satpam yang berjaga di perumahan elite tersebut. Marcell memerintahkan satpam itu untuk terus mengawasi Frederick Batubara 24 Jam Penuh, meski Marcell tetap melakukannya sepertinya ia tidak bisa bekerja sendiri.
Satpam itu dijanjikan kenaikan gaji kalau berhasil mengawasi terus keberadaan Frederick Batubara dan wanita selingkuhannya itu.

Satpam tersebut dengan gembira menerima perintah Marcell, dan mereka berdua sepakat berbagi tugas. Marcell mengawasi dari jauh, sedangkan si satpam mengawasi dari jarak dekat. Sikap kompromi diantara keduanya siap memberikan efek dahsyat terutama untuk menghancurkan Frederick Batubara.

Pada malam hari, Frederick Batubara sedang menjamu tamunya yang datang dari luar kota. Dirinya sedang membicarakan dana kampanye yang akan dipakai untuk operasional pilkada.

Rupanya, satpam perumahan yang mengawasi Frederick tahu hal itu. Segera dihubungilah Marcell lewat telepon di Pos Keamanan, dengan detail Satpam itu mengabarkan kedatangan tamu di rumah Frederick Batubara yang sedang membicarakan dana kampanye.

Kemudian besok pagi, Marcell kembali mendatangi perumahan itu dan berencana untuk melakukan sesuatu. Kebetulan Frederick Batubara sedang pergi ke Gedung Pertemuan untuk menghadiri musyawarah menjelang pencalonan.

Marcell memerintahkan satpam itu untuk memasang kamera pengawas di ruangan rumah milik Frederick. Dan dipasanglah kamera pengawas itu, berbekal kunci cadangan Frederick dan satpam yang bekerja sama dengannya masuk ke dalam rumah tanpa dicurigai sama sekali. Salah satu ruangan yang dipasangi kamera pengawas adalah kamar pribadi Frederick yang berada di belakang.

Selesai memasang kamera pengawas di kamar pribadi Frederick, Marcell dan satpam itu pergi meninggalkan rumah itu tanpa merasa khawatir.
Tidak disangka tepat jam 9 malam, Frederick Batubara dan kekasihnya pulang. Mereka amat kelelahan dan berniat istirahat.

Satpam yang sudah stand by di pos siap-siap menekan tombol record setelah Frederick masuk ke dalam kamar. Pucuk dicinta ulam pun tiba, momen yang dinanti telah tiba.
Kekasih Frederick masuk ke dalam kamar dan rupanya mereka sedang dimabuk asmara. Satpam itu tetap mengawasi keduanya dari dalam pos. Kamera sudah menyala dan merekam seluruh adegan di dalam kamar.

Rupanya, Frederick hendak berhubungan intim dengan kekasihnya. Satpam itu semakin melotot kedua matanya begitu melihat Frederick telanjang bulat. Tidak ketinggalan wanita yang sekamar dengan Frederick.

Mereka mulai berciuman sambil merangsang alat vital satu sama lain.
Frederick meremas payudara, sedangkan wanita itu mengocok penis dengan pelan-pelan.
Satpam perumahan itu rupanya terangsang setelah melihat adegan tidak senonoh yang terekam. Tidak sadar, satpam tersebut membuka resleting celananya dan memainkan penisnya. Itung-itung mengawasi sekaligus menikmati tontonan gratis, satpam itu memainkan alat vitalnya sembari melihat Frederick dan kekasihnya berhubungan intim.

Frederick terlihat sedang menikmati hubungan intim dengan kekasihnya.
Dan akhirnya Frederick mulai melakukan gaya doggy style, disinilah perilaku mantan suami Dokter Zoya ketahuan.Tidak sampai 30 menit, Frederick ejakulasi dan orgasme begitu saja.

Disaat bersamaan, Satpam perumahan itu juga ejakulasi dan orgasme instan.
Masih dalam keadaan sadar, Satpam perumahan itu menyimpan rekaman kamera pengawas dan segera mengirimnya kepada Marcell.
Marcell puas dengan praktik satpam itu yang terbilang rapi.
Marcell berharap video tersebut bisa menghancurkan karir Frederick sekaligus membalas dendam untuk Dokter Zoya.

(Bersambung)

My Sex Story : Skandal Video Panas Calon Walikota (Part 02)

Foto : Dokter Zoya

Pada malam itu Marcell dan teman-temannya berpesta sambil memakan hidangan yang lezat. Bahkan jumlahnya tidak terhitung sampai kelebihan meja.
Ia sangat baik terutama pada teman-temannya, sampai suatu ketika Marcell pergi memesan minuman kepada bartender.

Tidak disangka ia bertemu dengan dokter yang tadi siang memberinya resep. Ya, itulah namanya... Dokter Zoya Panjaitan yang menuliskan resep obat untuk Marcell.
Marcell terkejut melihat Dokter Zoya duduk sambil meminum sesuatu. Ternyata Dokter Zoya sedang meminum segelas vodka martini, Marcell lebih heran lagi' kenapa seorang dokter malah meminum minuman beralkohol ?
Tapi, Marcell tidak peduli...

Karena malam itu dia sedang bahagia sekali. Ketika hendak kembali ke meja makannya, Dokter Zoya berpesan kepada Marcell untuk mengantarnya pulang sehabis makan malam.
Marcell pun menyanggupi, singkat cerita seusai pesta makan malam' Marcell mengantar Dokter Zoya pulang ke rumahnya dengan mobil. Rupanya, Dokter Zoya datang ke sana malam itu tidak bawa kendaraan melainkan dijemput pakai taksi.

Selama perjalanan pulang, Marcell ngobrol dengan Dokter Zoya sambil bertukar pikiran. Sampai suatu ketika, kala mobil berhenti di lampu merah. Dokter Zoya menyentuh pundak Marcell dan membisikkan sesuatu ke telinganya.
Marcell pun kembali menyanggupi apa yang dibisikkan oleh Dokter Zoya. Bahkan ada sesuatu yang hendak dibicarakan secara empat mata antara Marcell dan Dokter Zoya.

Dokter Zoya mulai membicarakan suatu hal yang menyangkut masalah pribadi, terutama masalah keluarganya. Dokter Zoya mengaku dirinya telah lama menjanda semenjak suaminya berselingkuh di luar negeri. Dokter Zoya juga waktu itu belum dikaruniai momongan karena keburu diselingkuhi mantan suaminya yang bekerja sebagai diplomat di luar negeri.

Alangkah malangnya nasib Dokter Zoya, sudah diselingkuhi lalu diceraikan tanpa diberi pesangon oleh mantan pendamping hidupnya itu.
Sambil berapi-api Dokter Zoya bicara secara blak-blakan bahwa dirinya butuh sosok yang bisa menghangatkan hidupnya lagi seperti dulu.

Marcell mulai merasa iba, ia pun terpacu untuk mendengar curahan perasaan Dokter Zoya yang agaknya hampir menitihkan air mata akibat perceraian itu.
Sepertinya ada rencana besar dibalik semua ini, Dokter Zoya mengaku dendam dengan mantan suaminya yang tidak memberi nafkah ganti rugi pasca perceraian. Disini Dokter Zoya berani memohon kepada Marcell agar mau membalas dendam kepada mantan suaminya.

Dokter Zoya pun berjanji, jika Marcell berhasil membalas dendam kepada orang yang pernah melukai perasaannya itu maka ia akan diberi imbalan.
Marcell ragu, apakah betul akan diberi imbalan ?
Sepertinya masih dirahasiakan oleh Dokter Zoya, tetapi yang penting dendam bisa terbalaskan.

Kemudian, Dokter Zoya menunjukkan foto mantan suaminya kepada Marcell. Marcell terkejut bukan kepalang, rupanya mantan suami Dokter Zoya itu adalah seorang Calon Walikota yang akan berlaga dalam Pilkada bulan depan.
Marcell merasa ini ada sangkut pautnya dengan politik, bukan berarti ini hanya sekedar masalah pribadi tetapi juga masa depan warga kota.

Dokter Zoya yang merasa dizalimi itu akhirnya meminta kepada Marcell untuk membalaskan dendamnya kepada orang yang mencalonkan diri sebagai walikota itu.
Marcell tanpa basa-basi siap melakukannya asal imbalan diterima nantinya.

Hari yang dinanti pun tiba, Marcell berusaha untuk membalaskan dendam Dokter Zoya. Caranya ia harus tahu kapan sasarannya itu bisa ditemui. Lalu, ia mendengar kabar bahwa ada jadwal kampanye yang akan berlangsung sore nanti. Jadwal kampanye itu rupanya di-isi oleh calon walikota yang ternyata adalah mantan suami Dokter Zoya.

Kalau tidak salah nama suaminya adalah Frederick Batubara, menurut survei orang itu adalah calon terkuat yang berpotensi memenangkan Pilkada edisi kali ini.
Frederick Batubara ini dulu pernah melakukan KDRT pada saat perselingkuhannya terbongkar lewat cek tunai yang tercetak sebuah ketikan bernama seorang wanita.
Diduga, cek tunai itu merupakan uang untuk selingkuhan Frederick Batubara.
Nilainya cukup fantastis dan tidak main-main' yakni 200 Juta Rupiah.

(Bersambung)


My Sex Story : Skandal Video Panas Calon Walikota (Part 01)

Foto : Dokter Zoya

Pagi itu datang sebuah mobil yang berwarna merah, dari dalam mobil itu muncul seorang pemuda yang kaya raya tetapi kesepian. Pemuda itu bernama Marcell, nama lengkapnya Marcellino Simatupang. Dia adalah seorang karyawan perusahaan yang bergaji besar dan hidup makmur. Akan tetapi stress berat akibat lama bekerja membuat Marcell jatuh sakit. Sudah banyak obat diminum tetapi tidak kunjung sembuh dan semakin parah.

Marcell mencoba untuk berobat ke rumah sakit untuk sembuhkan penyakitnya itu. Ia mendaftar di lobi rumah sakit dan dipersilahkan duduk hingga 15 menit.
Tidak lama setelah ia menunggu, muncul seorang wanita paruhbaya yang berpakaian serba putih. Rupanya ia adalah seorang dokter yang bisa dibilang sebagai orang paling dihormati di rumah sakit tersebut.

Terlihat jelas pada papan nama yang terpasang dibaju putihnya, dokter itu bernama Zoya Panjaitan. Kalau ditaksir, bentuk tubuhnya agak gempal dan berpostur cukup ideal.
Setelah itu Marcell masih menunggu panggilan pemeriksaan sambil duduk di kursi panjang.
Hingga pada akhirnya Marcell diundang oleh resepsionis untuk segera masuk ke ruang praktek.

Begitu dia masuk, alangkah terkejutnya Marcell melihat sosok di depan wajahnya itu. Rupanya wanita yang bernama Zoya Panjaitan itu merupakan dokter yang akan memeriksanya. Marcell grogi, ia merasa tidak enak pikiran berkonsultasi dengan dokter wanita itu. Dengan tatapan agak malu, Marcell ingin memulai pembicaraannya dengan sang dokter.

Senyum lebar sang dokter membuat Marcell makin gugup.
Ia malu mengatakan hal yang membuatnya jatuh sakit kepada sang dokter. Begitu hendak mengucapkan sepatah kata, sang dokter malah mendahului.
Sang dokter menanyakan apa keluhannya ?
Dengan suara agak pelan, Marcell mengatakan bahwa dirinya mengalami gangguan psikologis akibat kelelahan setelah bekerja di kantor.

Sang dokter mendengarkan keluhan Marcell dengan seksama, bahkan senyum manis sang dokter makin melebar saat Marcell mengatakan sesuatu.

Apa yang dikatakan Marcell ?
Marcell mengaku dirinya kesepian meski berharta banyak dan hidup mewah di apartemen.

Sang dokter mengangguk dengan penuh keceriaan, lalu sang dokter mencatat keluhan itu diatas note book putih. Tidak dijelaskan betapa panjangnya isi catatan itu yang membuat pemeriksaan berubah menjadi tempat curhat. Intinya sang dokter segera memberikan resep obat untuk Marcell agar bisa diambil dari apotek rumah sakit. Marcell pun menuruti apa yang dikatakan oleh wanita bernama Zoya Panjaitan itu.

Marcell pun undur diri dari hadapan dokter itu, ia segera menujuk apotek untuk mengambil resep obat yang sudah ditulis.
Begitu diterima, rupanya Marcell mendapati sebungkus kapsul bergambar ginseng. Ia heran, mengapa obat yang tertera dalam resep dokter itu bergambar ginseng ?
Tapi, yang namanya perintah dokter wajib dipatuhi agar cepat sembuh.

Kemudian, Marcell pulang ke rumah dan meminum satu kapsul sehabis makan siang. Tidak butuh waktu lama, Marcell yang merasa lesu kembali menjadi bergairah. Bahkan semangat kerjanya membara tanpa rasa lelah sama sekali.
Sore hari pun menanti, Marcell mengaku senang dan kembali bersemangat menjalani hidup sebagai seorang pemuda.

Karena masih semangat, ia memutuskan untuk mengajak teman-teman se-kantornya untuk makan malam bersama di sebuah restoran. Kebetulan, Marcell itu dikenal sangat akrab dan kerap menghabiskan waktu dalam kebersamaan. Wajarnya ketika dia pergi bersama-sama teman sejawatnya, ia merasa hidup seolah tanpa batas.

(Bersambung)

Senin, 10 Februari 2020

Suara Kita : Habib Hanif Al Atthos, Calon Wakil Gubernur DKI 2022-2027

 Gambar : Lambang Propinsi DKI Jakarta


Bagi Anies Baswedan, memenangkan Pilkada 2022 adalah mutlak dilakukan karena demi mengamankan tiket menuju Pilpres 2024.
Akan tetapi, tidak semudah itu memenangkan Pilkada 2022. Sebab bisa jadi Anies Baswedan harus mencari rekan duetnya untuk Cawagub DKI periode kedua.
Ada beberapa nama calon Cawagub yang akan menjadi tandem Anies Baswedan di

Pilkada 2022 nanti. Salah satu nomor terkuat berdasarkan spekulasi adalah munculnya nama baru' kemungkinan Cawagub DKI 2020 yang akan mendampingi Anies Baswedan adalah menantu Habib Rizieq Shihab yakni Habib Hanif Al Atthos.

Habib Hanif Al Atthos tentu bukan nama asing lagi bagi para militan laskar FPI. Selama Habib Rizieq Shihab mengasingkan diri di Mekkah, Arab Saudi' Habib Hanif Al Atthos dipercaya memimpin FPI untuk sementara waktu.

Ulama muda yang satu ini terhitung merupakan salah satu Habib muda dari marga Al Atthos dan konon masih memiliki ikatan dengan marga-marga Habaib ternama seperti marga Smith, marga Al Habsyi dan marga Shihab sendiri.

Tidak ada cara lain, untuk memenangkan Pilkada DKI 2022 nanti Anies Baswedan akan memilih Cawagub DKI dari kalangan ulama. Sebab, bagi Anies Baswedan menjadikan ulama sebagai magnet politik diyakini akan mendompleng suara dalam pencoblosan nanti.

Teori semacam ini cukup masuk akal karena kehadiran ulama menjadi kekuatan terbesar demi memuluskan langkah. Meski potensi Habib Hanif Al Atthos menjadi Cawagub terbuka lebar, bukan berarti sang Habib menerima pinangan itu begitu saja.

Sebab, Habib Hanif Al Atthos merupakan menantu kesayangan Habib Rizieq Shihab yang dipercaya sebagai PLT Imam Besar FPI selagi mertuanya itu dalam pengasingan di Arab Saudi.

FPI jelas akan mendukung Habib Hanif Al Atthos menjadi Cawagub dengan dukungan 95% kekuatan dari kelompok PA 212 dibawah arahan Novel Bamukmin.
Bahkan enterpreneur keturunan Arab sekelas Haikal Hassan Barras akan memberikan sumbangan finansial untuk memperkuat koalisi dalam pencalonan Habib Hanif sebagai rekan kerja Anies.

Ditambah mantan Direktur Lapindo Brantas, Yusuf Martak akan membuka pintu dukungannya untuk mempermulus jalan Habib Hanif agar dijadikan Cawagub DKI.
Seperti biasa, Politik Identitas kembali dipakai untuk kepentingan menggelembungkan suara. Bisa jadi inilah yang ditakutkan oleh semua warga DKI, sebab Anies Baswedan akan menghalalkan segala cara demi mempertahankan kekuasaannya di DKI walaupun harus menggadaikan agama atas nama kekuasaan.

Kalau pun Tuhan mengizinkan, DKI Jakarta pasti akan dipimpin oleh Anies Baswedan lagi, tetapi periode keduanya tidak akan selesai karena bisa jadi meski terpilih dan memimpin lagi' Anies Baswedan harus mempertanggung jawabkan perbuatannya akibat kasus Lem Aibon dan Banjir yang maha parah dibanding era Ahok, Foke & Bang Yos.

OK sajalah, Ahok dan Foke serta Bang Yos memiliki kualitas kepemimpinan yang baik karena tahu situasi dan kondisi. Sedangkan Anies yang notabene orang Kampus justru tidak mahir melakukan hal seperti mereka bertiga dahulu.

Bisa jadi Anies Baswedan akan diperiksa KPK sebab sampai hari ini KPK masih berusaha mengumpulkan data untuk dievaluasi mengenai kinerja Kepala Daerah yang akan dijadikan tersangka.

Kalau kinerjanya baik, maka KPK tidak akan menangkapnya tetapi kalau buruk kinerjanya maka tidak ada kata kompromi lagi' justru siap-siap diciduk dalam keadaan tertawa tetapi menangis.

(Selesai)