Senin, 03 April 2017

Puisi : Frilly Gadis Pantura


Asinnya telur bebek panggang
Masih kalah dengan senyumanmu
Dinginnya malam yang lenggang
Masih kalah dengan ketenanganmu


Aku meronta didalam sanubari
Ingin rasanya aku resapi arti diri
Terseret menuju palung hatimu
Hadirkan panggilan untuk dirimu

Frilly... Oh... Frilly...
Gadis Pantura Yang Mempesona
Frilly... Oh... Frilly...
Gadis Pantura Yang Sungguh Jelita
Frilly... Oh... Frilly...
Gadis Pantura Yang Ayu Parasnya
Frilly... Oh... Frilly...
Gadis Pantura Yang Tiada Duanya

Jauhnya aliran Sungai Pemali
Lebih jauh perasaanku padamu
Rasa sayangku tiada tertandingi
Menandingi luasnya Danau Malahayu

Ramainya Pasar Klampok, Mencintaimu tak membuatku kapok
Padatnya Jalan Tol Pejagan, Hatiku sungguh-sungguh deg-degan

Andaikan dirimu mau menyadari
Apa yang sedang kurasakan saat ini
Niscaya hatimu akan mengerti
Nestapa pun hilang karena cintamu ini

Selasa, 21 Maret 2017

MY SEX STORY : BIRAHI SUAMI SETIA (PART 02)


Pergerumulan itu membuat aku dan istriku lupa daratan, sampai-sampai waktu berganti tak terasa.
"Papa, ayo... Jangan diremas terus dong" ujarnya menggelinjang
"Sabar, papa masih ingin main-main dulu" jawabku
"Ahhh.... Ahhhhh.... Uhhhh... Uhhhhh" lenguh istriku
Permainan tanganku begitu merangsang, dia tidak berdaya menerima sentuhan tanganku.
Walaupun sentuhanku lembut, tetapi sensasinya benar-benar diluar dugaan. Istriku tidak kuat menahan hasrat seksnya yang perlahan naik.
Lalu, aku mencium perutnya dan menggelitikan jariku... Dia merasa geli dan tertawa.
"Hahahahahahaha.... Papa, jangan digelitikin' aku jadi nggak sabar nich..." ujarnya
Aku tidak menjawab, tetapi aku jawab dengan berbagai sentuhan romantis yang membuatnya hampir Take Off dari Landasan Pacu.
Anehnya, ia makin dikuasai permainanku... Tak kusangka tubuhnya melemas' dengan mudah aku menelusuri bagian sensitifnya yakni Klitoris.
"Mama, papa mau ajak mama terbang" kataku
"Silahkan, kalau papa bisa belikan tiket" jawabnya
"Nggak usah pake tiket, ini gratis lho..." ujarku sambil mendekapnya
"Emang bisa ?" tanya dia
Langsung saja jariku menempel bagian terlarangnya, aku usap dengan jariku' hasilnya dia menggeliat seperti cacing gendon.
"Ahhhh.... Aduhhhhh... Ahhhhh.... Ampun.... Papa... Mama diapakan nich ?" tanya istriku sambil mendesah
"Nggak usah ditanya, entar juga terasa sendiri" jawabku santai
Jari-jariku dengan indahnya memainkan klitorisnya yang terlihat disela-sela organ intimnya.

Jemari tanganku semakin tak terkendali dalam memainkan klitorisnya.
"Ahhhh.... Auwwww.... Aduhhhh...." teriak istriku
"Mama, udah terasa kan ?" tanyaku
"Papa, mama udah mulai melayang... Ahhhh.... Ahhhh.... Ihhhhhhh.... Ihhhhhh....." jawabnya sambil mendesah
"Jangan khawatir, mama nggak akan jatuh' kalau pun jatuh' Papa akan menjadi parasut yang siap dalam kondisi darurat" ujarku penuh canda
Istriku mulai tidak bisa mengendalikan nafas didada, dia kesetanan dan sulit membedakan antara kenyataan atau khayalan.
Nampaknya kondisi makin mendekati klimaks, akhirnya tanpa diduga...
"Aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhh....." jerit istriku
Keluarlah air lubrikasi dari lubang alat vitalnya yang mengucur deras membasahi area segitiganya.
"Uhhhhhh..... Ahhhhh..... Papa, Mama udah lemas nich' enak banget rasanya" ujar istriku memelas manja
"Tuh... Kan, Papa sudah memprediksi bakal begini jadinya" kataku sambil tersenyum
"Papa, Mama mau ditunggangi sekarang... Ayo dong..." desaknya sambil merayu
"Sebentar, Papa ancang-ancang dulu" ujarku sambil mempersiapkan diri.

Aku pun bersiap menunggangi tubuh istriku, dia terlihat melemah akibat stimulasi klitoris yang kuberikan tadi.
"Papa, jangan lama-lama... Mama nggak tahan lagi nich" desak istriku manja
"Sabar, ini lagi lurusin dulu" jawabku sambil mengocok alat vitalku
"Papa, kok dikocok dulu sich ?" tanya istriku
"Biar lurus, kan tadi rada bengkong" jawabku
"Papa emang suka godain mama, mama jadi ngebet dimasukin punyanya papa" bilangnya manja
"OK, udah siap nich ma..." kataku
Kemudian aku menidihnya dari atas, dengan pelan aku mencoba masuk ke dalam lubang peranakan. Tanpa menunggu lama akhirnya dengan mudah aku melakukan penetrasi lambat.
"Ahhh... Akhirnya masuk juga" jawabku
"Udah masuk ?" kata istriku
"Mau digenjot ?" tanyaku
"Silahkan..." jawabnya
Lalu, aku menggenjot alat vitalku dengan tempo sedang agar istriku tidak kesakitan. Maklum, Istri Secantik dia harus dilayani dengan mesra dan tidak boleh kejam.
Sadar istriku cantik, aku mulai melihat rona wajahnya yang dibasahi keringat. Dia nampak mempesona, aku semakin bernafsu saja hingga tidak sadar genjotanku sudah lebih dari 10 kali.
"Ahhhh... Ahhhhh..... Ahhhh.... Ahhhh.... Ukkkkkhhhhhhhhh..... Ukkkkkhhhhhhh...." Istriku melenguh manja
Suaranya membuatku semakin tidak terkontrol, wajah menawan dan suara lenguhan manja menjadikan istriku sebagai wanita tercantik didunia ini' terutama ketika sedang bersetubuh denganku.


Genjotan demi genjotan kulakukan agar sensasi kenikmatan makin menjalar.
"Papa... Papa... Ahhhhhh.... Ahhhhhh....." Lenguh istriku
Kenikmatan yang luar biasa, itulah yang kurasakan. Istriku cukup bahagia dengan apa yang kulakukan padanya.
"Mama... Mama..." sapaku
"Iya pa ?" jawabnya
"Udah keluar belum ?" tanyaku
"Belum pa..." jawabnya
"Sama dong..." balasku
Tempo semakin cepat, gairah makin membara dan suasana tidak menentu itulah antara aku dan istriku.
"Mama, aku bangga bisa menunggangimu" pujiku
"Papa, mama juga bangga bisa digagahi keperkasaanmu" balasnya
Aku hanya tersenyum saat sedang melakukan penetrasi. Wajahku hanya bisa puas menahan rasa bahagia ketika istriku mengerang.
"Papa... Mamah udah klimaks" bilangnya
"OK, sayang... Keluarkan sekarang !" ujarku
"Ohhhhhhh......." desah istriku
Akhirnya keluar juga air kehidupan dari lubang vital istriku, kini giliran aku yang keluar.
"Ahhhh... Hangat juga airnya, papa ikut dong' uhhhhhhh" ujarku sambil melenguh
Aku pun akhirnya mengalami ejakulasi belakangan, air maniku bercampur dengan air kehidupan yang keluar dari tubuh istriku.
Kami berdua terkulai lemas setelah menikmati pertarungan dahsyat itu. Wajah puas terlihat dari reaksi kami berdua, aku tersenyum meringis sedangkan istriku tersenyum simpul.


"Mama... Masih sehebat dulu ternyata, usia sudah segitu tetap menggoda" pujiku spontan
"Sukanya dech... Ngobral pujian' tapi menurut mama, papa hebat dech... Mama kalah terus" jawabnya sambil menatap wajahku
"Mama, kira-kira ini bakalan jadi apa enggak ?" tanyaku
"Jadi dong pa... Kelak kita akan punya anak lagi setelah ini" jawabnya manis
"Maunya punya anak cowok atau cewek ?" tanyaku sambil mencium tangan kanannya
"Terserah... Yang penting membawa berkah dan kelak bisa berguna untuk bangsa serta negara" ujarnya penuh optimis
"Mama... Papa bangga dengan pernyataan itu" jawabku
Setelah berbincang, kami berdua mengantuk dan tertidur pulas dengan malasnya.

(THE END)

MY SEX STORY : BIRAHI SUAMI SETIA (PART 01)


Pagi itu bertepatan dengan hari libur, aku bersantai sambil menonton televisi. Entah kenapa tiba-tiba aku tergiur oleh seseorang yang ada di dapur.
Siapa lagi kalau bukan istriku, wanita yang telah lama kunikahi sejak 10 tahun lalu memang tiada bedanya saat masih perawan dulu.
Tubuh langsingnya memanjakan mataku, wajah cantiknya tak jauh berbeda dengan gadis usia 20 tahun. Walaupun kini aku dan dia sama-sama berusia diatas 30 tahun, tetapi dia membuatku horny setiap kali dia bertutur kata lembut.
Pagi itu dia sedang mencuci piring di wastafel, karena dia memakai busana yang serba "Open" maka timbul seketika naluri kejantananku.
"Alamak... Pagi-pagi begini sudah mengundang nafsuku" gumamku
Langsung saja aku beranjak dari kursi malas dan mengendap-endap di belakangnya. Padahal aku datang dari samping dia juga sudah tahu kehadiranku, tapi aku pura-pura ambil piring agar dia tidak curiga.
Saat aku sudah dibelakangnya, maka kudekap dia dengan pelan.
Istriku kaget, tapi dia hanya tersenyum. Mungkin dia sudah biasa menerima kejutan dariku.
"Ahh... Papa' masa dari dulu begitu melulu sich" katanya genit
"Mama, lagi-lagi bikin kesalahan nich..." ujarku menggoda
"Kesalahan, kesalahan apa ?" tanya dia
"Mama tuch dari dulu nggak pernah berubah dech, Papa jadi kebelet terus kalau lihat mama" jawabku gombal
"Kebelet apa ?" tanya dia
Tanpa kujawab segera kucium bibirnya dengan beringas, ciumanku benar-benar tidak terkontrol bahkan nyaris membuat kondisi semakin tidak karuan.


Aku menciumnya dengan ganas, pipi kiri dan kanan menjadi sasaran. Ditambah kedua tanganku yang mendekap tubuhnya hingga tak berdaya.
Lagian salahnya sendiri, pakai busana serba "Open" dan wajahnya selalu cantik terus, siapa orangnya yang tidak merasa tergoda.
"Mama, dari dulu cantik terus tidak pernah berubah" kataku sembari mendekapnya
"Papa, sukanya godain mama... Selalu aja ada modusnya" ujarnya meronta
Sayangnya ketika istriku mencoba melepaskan diri, cengkeraman tanganku semakin kuat dan membuat tubuhnya lemas.
"Papa... Mama nyerah dech, sekarang Papa mau apa ?" balasnya dengan suara melemah
Tanpa pikir panjang kubawa dia ke dalam kamar, setelah masuk kamar aku mengunci pintu dan menjatuhkannya diatas ranjang.
"Aduh... Papa' kasar dech..." teriaknya manja
"Mah, papa nggak bisa menahan gejolak asmara di dada ini" kataku sambil melepas pakaianku
"Emangnya kenapa ?" tanya istriku
"Habis... Mama selalu bikin papa rindu" jawabku


"Rindu ?" tanya dia
"Papa nggak nyangka bisa jadi suami sebahagia ini" jawabku sambil meregangkan otot
"Memangnya kenapa ?" tanya balik
"Selama menjalani rumah tangga, papa nggak pernah merasakan keluh kesah seperti yang orang lain rasakan" jawabku sambil menatap wajahnya
"Gombal, masa wanita seperti aku bisa bikin Papa bahagia ?" tanya dia
"Serius... Aku beruntung punya istri kaya kamu' dulu banyak yang bilang Papa nggak laku jadi cowok... Tapi saat Papa tertarik sama yang didepan sekarang ini' waduh... Nikmat pokoknya" kataku sambil mendekatinya
"Dasar lelaki, ada aja maunya kalau lihat yang beginian" ujarnya sambil meremas payudara
"Mama, jangan digituin dong itunya' Papa tambah horny nich" mohonku
"Habis... Udah jadi kebiasaan' beginilah resiko punya suami kaya papa" kata dia sambil membuka pakaian
"Ehhh... Malah dilepas, Mama sudah bikin Papa nggak tahan" ujarku genit
"Habis mau apa, kalau nggak tahan ?" tanya dia
Tanpa menunggu lama aku menindih tubuhnya, sambil meraba dan menjamah kulitnya' aku merasakan betapa luar biasanya wanita yang akan kugagahi.
Cantik dan menggairahkan, itulah kesan yang kudapat saat menatap wajah istri tercinta. Kedua tanganku meraba dengan pelan juga hati-hati, ditambah bibirku mencium bibirnya.


"Ohhhh... Oh.... Oh... Papa.... Nakal dech..." lenguhnya
Sebelum kubuat dia tak berdaya, aku rangsang dulu titik kelemahan yang sudah kuketahui.
Sampai-sampai keadaan semakin mendukung dengan suara-suara desahan merdu dari mulut istriku.
Dia bagai menyanyikan sebuah lagu yang seolah-olah memanggil namaku. Senang, itulah perasaanku saat ini' dimana nafsu birahi di imbangi dengan perasaan cinta menyatu sehingga menimbulkan sensasi tiada tara.
Kemudian aku remas kedua payudaranya yang membuat imanku goyah, dengan pelan tapi sedang aku meremasnya sambil menatap ekspresi wajah istriku.
Dia meringis keenakan, bahkan saat kuremas payudaranya' raut wajah istriku memerah dan warnah merah pada wajahnya yang menggairahkan itu menjalar ke seluruh tubuhnya.

(Bersambung)

Kamis, 09 Februari 2017

Puisi : Pangeran Berkuda Putih

Kau adalah sosok yang misteri
Kau adalah hal yang tak terduga
Kau adalah orang yang kunanti
Kau adalah mimpi yang nyata


Wajahmu hadirkan rasa dihatiku
Terbuai diriku setelah memandangmu
Tubuhmu hadirkan sejuta pesona yang melebur dalam asaku
Getaran rindu merambat melemahkan sekujur tubuhku

Duhai... Pangeran yang tampan
Datanglah atas panggilan dari dalam jiwaku
Duhai... Pangeran yang rupawan
Jemputlah diriku dengan kuda putihmu

Bawalah aku bersamamu menuju istanamu
Suntinglah diriku sebagai permaisurimu
Biarkanlah aku duduk di singgasana denganmu
Dekaplah diriku sebagai wujud perasaan cintamu

Tiada kusangka, tiada kuduga
Kau datang tepat waktu
Sulit kubayangkan, sulit kuartikan
Segala perasaanku padamu

Akan kutunggu dirimu menjadi rajanya
Sedangkan akulah yang menjadi ratunya

Puisi : Makar

Hidup terkadang tidak memihak kita
Kenyataan yang menyakitkan menghampiri kita
Tidak ada cara lain kecuali melawannya
Hidup ini harus ada keseimbangan dalam cinta


Mau tidak mau, setuju atau tidak setuju
Mau tidak mau, setuju atau tidak setuju

Makar !
Makar !
Makar !
Makar !

Melawan keadaan yang gawat
Melawan orang-orang bangsat
Musnahkan ketidakadilan
Musnahkan kebobrokan

Tiada cerita indah selain keadilan
Tiada makna indah selain keseimbangan
Orang baik pasti akan menang
Orang baik pasti selalu menang

Satukan kekuatan, jernihkan pikiran
Hilangkan perbedaan, bersihkan pikiran

Senin, 09 Januari 2017

Lirik Lagu Tegalan : Nyong Cinta Padamu

Foto : Maria Vania

Meseme manis pisan kaya madu
Pandangan matane gawe kelayu
Kepengin inyong dadine kenalan karo deweke
Gadis pujaane wong sapa bae

Mlakune dadi sawangan wong lanang
Bengine sing nyawang mesti kemutan
Enyong bae geregetan
Kangene wis belih tahan
Gadis pujaan nyong cinta padamu

Gadis pujaan sing kondang paling terkenal
Enyong kepengin dadi gerele
Mangan belih marem, bengi kangelan merem
Kemutan bae karo deweke

Oh, Gadis Pujaan... Nyong Cinta Padamu

Jumat, 23 Desember 2016

Cerita Wayang : Kresna Duta (PART 04/END)

Prabu Dewasrani tewas terkena semburan api yang keluar dari mulut Wisanggeni, otomatis semua prajurit yang kewalahan menghadapi Wisanggeni segera"Tinggal Gelanggang Colong Playu". Mereka lari terbirit-birit melihat kedigdayaan Wisanggeni di medan laga.

Berita kematian Prabu Dewasrani membuat Batari Durga murka, ia merasa bahwa hal ini harus diselesaikannya sendiri. Mengingat ia harus menghentikan Bharatayudha agar para Kurawa dapat menang tanpa berperang. Lalu, ia sendiri pergi membawa pasukan denawa dalam jumlah yang sangat besar' beberapa diantaranya mereka adalah denawa-denawa bertubuh bajang atau kerdil.

Sisanya denawa-denawa bertubuh gendut, besar, gimbal rambutnya dan bertaring tajam mengandung racun mematikan. Wisanggeni mewaspadai terjadinya serangan balik yang akan dilakukan para denawa dari Kahyangan Setragandamayit. Antasena pun mulai merasakan aura negatif yang kental, ini menandakan bahwa Batari Durga berserta wadyabala denawanya akan membalas kekalahan mereka.

Dugaan Wisanggeni tepat, rupanya seluruh denawa di muka bumi sudah murka dengan kekalahan yang dialami Prabu Dewasrani. Segera para denawa menyerang secara membabi buta tanpa ampun, mereka mengeroyok Wisanggeni dan Antasena. Walaupun dikeroyok sedemikian banyaknya denawa-denawa itu, mereka berdua tetaplah yang paling tangguh.

Setelah denawa-denawa yang tadi sudah disingkirkan, kini giliran barisan denawa-denawa bajang mulai menyerang seperti lebah yang baru saja dirusak sarangnya. Mereka mengamuk dan taringnya tajam-tajam sekali, tajamnya taring mereka bagaikan ikan piranha.

Mereka mulai menggigit Wisanggeni dan Antasena secara bersama-sama, ada yang menggigit kepala' ada yang menggigit tangan dan ada pula yang menggigit kaki. Namun, lagi-lagi Wisanggeni dan Antasena kembali memenangkan pertarungan setelah mereka mengeluarkan jurus masing-masing.

Tidak sedikit denawa-denawa dari Kahyangan Setragandamayit terbunuh dalam serangan itu, salah satu denawa yang selamat datang menemui Batari Durga. Denawa yang selamat itu mengabarkan bahwa semua pasukan denawa dari seluruh yang ada telah tumpas. Batari Durga marah besar mendengar berita itu, ia segera memerintahkan dua pengawal pribadinya' yakni Pandumeya dan Jarameya untuk mengundang Batara Kala untuk menjadi senapati dalam usaha menumpas para Pandawa yang hendak melangsungkan Bharatayudha.

Segera Pandumeya dan Jarameya pergi menuju ke Kahyangan Selamangumpeng untuk memberitahu keadaan di medan perang kepada Batara Kala. Sesampainya disana mereka berdua menemui dewa yang gemar makan daging manusia itu, Pandumeya mengatakan bahwa malam ini Batari Durga memerintahkan dewa raksasa tersebut menjadi senopati.

Mendengar laporang itu, Batara Kala sangat antusias karena sudah lama ia tidak berperang karena terlalu sering banyak makan dan tidur. Lalu Pandumeya memberitahukan kabar duka, kabar duka itu adalah kematian Prabu Dewasrani yang sudah dilenyapkan oleh Wisanggeni dan Antasena.

Batara Kala pun tergugah amarahnya setelah mendengar berita kematian Prabu Dewasrani, langsung sang dewa bertubuh besar dan menakutkan itu pergi meninggalkan Kahyangan Selamangunpeng untuk terjun di medan tempur menghadapi Wisanggeni dan Antasena.

Batara Kala mengamuk di medan tempur, seluruh kesaktian yang ia miliki dikeluarkan semua demi mengalahkan Wisanggeni dan Antasena. Wisanggeni mewaspadai kekuatan terbesar Batara Kala, yakni sebuah jurus bernama Aji Petak Bumi yang mampu menggoncangkan bumi walaupun hanya satu kali hentakan.

Wisanggeni dengan cepat mengantisipasi serangan dahsyat itu dengan semburan api dan serangan dari bawah tanah yang dilakukan Antasena. Batara Kala tidak bodoh, ia segera membalas dengan jurus-jurus mengerikan sehingga seluruh hutan dan pegunungan terbakar.

Seluruh hutan terbakar oleh semburan api yang meleset dari mulut Wisanggeni, Batara Kala terlalu lihai menghadapi lawannya. Antasena datang membantu dengan serangan dari udara, dari udara Antasena menghajar wajah Batara Kala dengan pukulan bertubi-tubi.

Namun, Batara Kala tidak merasa sakit sama sekali karena kulitnya kebal terhadap pukulan.
Antasena kewalahan menghadapinya, lalu Batara Kala mencengkeram kaki kiri Antasena dan memutar-mutar tubuhnya lalu dibanting ke tanah. Antasena terjatuh, Wisanggeni berganti menyerang Batara Kala dengan serangan-serangan yang muncul dari telapak tangannya.

Alangkah menyeramkan sekali pertempuran waktu itu, Batara Kala benar-benar sulit dikalahkan mengingat ia adalah seorang dewa. Namun, Antasena dan Wisanggeni harus mengakhiri pertempuran ini sebelum matahari terbit. Lalu, mereka berdua teringat dengan pesan Sang Hyang Wenang' dalam ingatan mereka, Sang Hyang Wenang memberi mereka sebuah senjata bernama Gada Emas.

Gada Emas pemberian Sang Hyang Wenang adalah senjata untuk mengakhiri hidup Batara Kala beserta para denawa dari Kahyangan Setra Ganda Mayit. Lalu, Wisanggeni meminta Antasena untuk menyerang Batara Kala lagi. Tapi, Antasena menolak karena semua kemampuan terbaiknya tak mampu membenamkan perlawanan Batara Kala.

Wisanggeni akhirnya maju sendiri menghadapi Batara Kala, maka diam-diam Wisanggeni mengambil Gada Emas pemberian Sang Hyang Wenang. Dengan serangan tanpa diduga-duga, Gada Emas yang dipegang Wisanggeni mengenai kepala Batara Kala. Setelah terkena pukulan dari Gada Emas itu, Batara Kala tersungkur tak berdaya. Kepalanya mengeluarkan darah dan sebentar-sebentar tempurungnya mulai retak, dan akhirnya Batara Kala tewas seketika.

Wisanggeni berhasil mengalahkan Batara Kala dengan menggunakan senjata Gada Emas pemberian Sang Hyang Wenang. Dari kejauhan Pandumeya dan Jarameya terkejut melihat Batara Kala tewas terkena hantaman senjata pusaka. Mereka lari dan lantas melapor kepada Batari Durga yang saat itu sedang menunggu kepulangan beberapa wadyabala denawa.

Dengan lari yang cepat, Pandumeya dan Jarameya datang ke hadapan Batari Durga dan melaporkan kejadian yang menimpa Batara Kala, Mereka bilang Batara Kala tewas terkena senjata pusaka, seketika Batari Durga marah dan beranjak dari tempat duduknya untuk menyerang Wisanggeni dan Antasena.

Sesampainya di medan laga, Batari Durga menantang Wisanggeni dan Antasena bertempur.
Maka pertempuran akbar pun terjadi antara mereka bertiga, semakin lama semakin brutal dan semakin tidak bisa diprediksi siapa yang akan menang.

Rupanya Batari Durga terbawa emosi atas kematian yang dialami Prabu Dewasrani dan Batara Kala, mantan istri Batara Guru tersebut menyerang secara tidak kenal ampun. Segala macam benda disekitarnya dipakai sebagai senjata untuk menyerang Wisanggeni dan Antasena.

Lama kelamaan pertarungan mulai terlihat semakin tidak terkendali, Lalu Wisanggeni segera menangkap Batari Durga dan Antasena diminta untuk memukul kepalanya dengan Gada Emas. Maka dalam waktu cepat mendaratlah Gada Emas diatas kepala Batari Durga. Batari Durga tewas terkena hantaman senjata pusaka itu. Maka pemenang dalam pertempuran kali ini adalah Wisanggeni dan Antasena.

Setelah berhasil  mengalahkan Batari Durga, Batara Kala dan Prabu Dewasrani’ Antasena dan Wisanggeni berniat membinasakan Pandumeya dan Jarameya yang merupakan mata-mata dari Kahyangan Setra Ganda Mayit.

Berbekal senjata Gada Emas, Antasena dan Wisanggeni mencoba mencari keberadaan Pandumeya dan Jarameya agar tidak lolos. Rupanya Pandumeya dan Jarameya sedang bersembunyi di dalam gua yang gelap sekali.

Meskipun bersembunyi, Antasena berhasil menemukan keberadaan keduanya yang berada didalam sana. Dengan jurus yang membuat seisi gua bergetar, Antasena mencoba memancing kedua raksasa bajang yang melarikan diri itu. Namun, mereka berhasil kabur karena kesaktian mereka yang luar biasa. Antasena sebal karena gagal membinasakan mereka, Wisanggeni kemudian mendapat ide bagaimana caranya agar Pandumeya dan Jarameya tertangkap.

Lalu, Wisanggeni datang ke Kahyangan Setra Ganda Mayit mendahului Pandumeya dan Jarameya’ ketika sampai disana Wisanggeni menemukan 2 buah kalung jimat penyegel yang terletak di sudut gua. Wisanggeni menduga jimat penyegel ini sebagai sumber kesialan Pandumeya dan Jarameya.
Lalu, Wisanggeni bersembunyi dengan mengkasatkan wujudnya agar tidak terlihat’ tak lama Pandumeya dan Jarameya kembali ke Kahyangan Setra Ganda Mayit. Mereka berdua merasa sudah tidak punya haluan untuk mengabdi, karena sesembahan mereka sudah tewas dibunuh Antasena dan Wisanggeni. Karena lengah, Pandumeya dan Jarameya berhasil ditangkap Wisanggeni yang sendari tadi mengkasatkan wujudnya.

Pandumeya meminta ampunan dari Wisanggeni, tetapi putra Arjuna tersebut tidak tinggal diam’ akhirnya jimat penyegel itu dikalungkan ke leher Pandumeya. Seketika tubuh Pandumeya mengeluarkan asap dan lantas terbakar mengeluarkan api. Maka tewaslah Pandumeya karena terkena daya dari kalung jimat yang dikalungkan Wisanggeni. Jarameya juga mengalami hal serupa, ia turut tewas setelah lehernya dikalungkan jimat penyegel. Seusai menyelesaikan tugasnya, Wisanggeni mengeluarkan seluruh api dari tubuhnya untuk membakar seluruh isi Kahyangan Setra Ganda Mayit menjadi abu.
Setelah api keluar dari tubuhnya, Wisanggeni segera pergi dari tempat itu sehingga membiarkannya terbakar tanpa sisa. Maka berakhirlah sudah riwayat Kahyangan Setra Ganda Mayit karena sudah dibinasakan oleh Wisanggeni.

Antasena kembali berkumpul dengan Wisanggeni setelah tugasnya selesai, mereka memutuskan kembali menemui Sang Hyang Wenang. Saat bertemu Sang Hyang Wenang, Antasena melapor bahwa tugasnya menyingkirkan gangguan dari Batari Durga dan antek-anteknya sudah selesai.

Sang Hyang Wenang bangga dengan kinerja kedua ksatria itu, kemudian mereka berdua menanyakan bolehkah mereka menemui para Pandawa Lima untuk bergabung menjadi punggawa di Kerajaan Wirata. Tetapi, Sang Hyang Wenang tidak mengizinkan Antasena dan Wisanggeni menemui orangtua mereka karena jika Antasena dan Wisanggeni ketahuan membinasakan seluruh penghuni Kahyangan Setra Ganda Mayit, maka mereka berdua akan berurusan dengan Batara Guru karena selama ini dewa yang paling berkuasa itu cenderung lebih sering dipengaruhi orang-orang Kahyangan Setra Ganda Mayit.
Mereka kemudian diberi peraturan bahwa Antasena dan Wisanggeni tidak boleh ikut Bharatayudha, karena  dianggap mengotori isi Kitab Jitapsara yang sudah ditulis ratusan tahun yang lalu. Akhirnya mereka memilih jalan untuk menjadi tumbal perang demi kemenangan orangtua mereka.

Mendengar keputusan itu, Sang Hyang Wenang segera mengeluarkan sihirnya untuk menghilangkan raga Antasena dan Wisanggeni. Muncul cahaya dari tubuh Sang Hyang Wenang mengenai tubuh Antasena dan Wisanggeni, tanpa diduga jiwa dan raga mereka hilang seketika.

Maka berakhirlah hidup Wisanggeni dan Antasena setelah menyelesaikan tugasnya menghancurkan semua bahaya yang hendak mengancam para Pandawa Lima. Kali ini tinggal menunggu cerita setelah kejadian tadi. Kira-kira apa yang akan terjadi ketika semua pihak dari Pandawa Lima maupun Kurawa Seratus sudah berkumpul di Padang Gurung Kurukasetra ?
(TAMAT)