Sabtu, 20 April 2024

Radja - Langkah Baru (2004)

 

Album  Radja "Langkah Baru"

Tracklist :

01. Bulan*
02. Tulus*
03. Takkan Melupakanmu*
04. Jujur
05. Wahai Kau Cinta
06. Tetaplah Kau Jadi Milikku
07. Selalu Jauh Dari Cinta
08. Manusia Biasa
09. Tak Seperti Dulu
10. Butuh Waktu
11. Lepas Masa Lalu
12. Cinderella
13. Ini Aku Adanya

*New Songs

Producer : EMI Music Indonesia/GP Records
Recorded @ Kantong Studio (July-Aug 2003 & May 2004)
Mixed @ Kantong Studio & Musica Studio
Mastered @ Soundsation Studio

Senin, 11 Maret 2024

Najeeb Bahresy & Tri Widarti : Kliningan Dangdut Tegalan (1981)

 
Najeeb Bahresy & Tri Widarti dalam Kliningan Dangdut Tegalan 

Musik Tegalan sejatinya merupakan prototype atau biasa disebut sebagai "Leluhur Dangdut Koplo" yang berkembang di Jawa Timur. Sayangnya orang Jawa Timur mengklaim bahwa Dangdut Koplo berasal dari sana. Nyatanya tidak, itu cuma klaim sepihak yang tidak ada bukti sejarah otentik dari mana asal usul genre musik tersebut.

Sejarah Dangdut Koplo dirunut dari ketukan kendang kliningan yang berkembang di Jawa Tengah, salah satu daerah yang khas dengan Kliningan itu adalah Tegal. Kota Tegal memang punya subgenre musik Dangdut sendiri, yaitu perpaduan antara Jaipong Sunda dan Musik India. Kliningan Tegalan adalah subgenre yang merupakan gabungan Jaipong ala Priangan yang dihiasi dengan cengkok ala musik-musik film Bollywood dari India.

Pemburaman sejarah ini membuat masyarakat Tegal geram, sakit hati dan hanya terdiam seribu bahasa saat subgenre musik ini diklaim oleh orang Jawa Timur selama puluhan tahun lamanya. Album kaset ini menjadi jawaban atas segala keraguan dari hilangnya mata rantai tentang Asal Usul Musik Dangdut Koplo. 

Meski bernuansa jaipongan bercampur irama India, namun ketukan kendangnya merupakan akar dari ketukan kendang koplo yang menjadi "Identitas Ilegal" musik di Jawa Timur. Kalau dibilang musik Campursari, nampaknya tidak cocok karena bedanya dengan Kliningan Tegalan itu ada pada instrumen alat petiknya.

Campursari menggunakan gitar akustik dan ukulele yang begitu ketara terdengar dikuping, sedangkan Kliningan Tegalan tidak memakai Ukulele yang selama ini merupakan bagian dari genre musik Keroncong khas Portugal. Melainkan menggunakan mandolin yang sudah sangat sreg dengan irama Dangdut pada umumnya.

Orkes Melayu Logeta pimpinan (Alm) Najeeb Bahresy sudah membuktikan bahwa mereka adalah Grup Musik Dangdut Koplo pertama dalam sejarah permusikan lokal yang pernah rekaman di Ibukota DKI Jakarta. Najeeb Bahresy tidak sendiri, ia ditemani seorang penyanyi wanita bernama Tri Widarti. Tidak hanya itu, penyanyi yang kurang terkenal seperti Jaja Nehista juga ikut menyumbangkan suaranya yang sangat amat merdu. 

Album kaset ini setidaknya bisa membuka mata hati kita sekaligus mengungkapkan sejarah yang hilang sehingga kita tahu bahwa Musik Dangdut Koplo itu akarnya bukan berasal dari Jawa Timur' tapi dari Tegal, Jawa Tengah.

Tracklist :

01. Cap Jempol*
02. Kangen
03. Ora Tahan***
04. Nglindur
05. Cupen***
06. Kalem
07. Dadi Rangda***
08. Implang Impleng
09. Tukmis*
10. Jebule***
11. Warteg**
12. Cacaban***

Keterangan :

* Najeeb Bahresy & Tri Widarti vocal
** Jaja Nehista vocal
*** Tri Widarti vocal


Jumat, 10 November 2023

Lahirnya Kompetisi Sepakbola Semi Profesional Galatama

Pada tahun 1978, Ketua PSSI Ali Sadikin (Saat Itu) berencana untuk menciptakan kompetisi sepakbola profesional pertama di Asia Tenggara. Kompetisi sepakbola ini disebut GALATAMA yang merupakan singkatan dari Liga Sepakbola Utama (Premier Football League). 

Dengan syarat para pesertanya harus berasal dari klub sepakbola independen atau swasta (Bukan Klub Perserikatan). 

Syarat yang diajukan Ali Sadikin ditolak oleh sebagian peserta rapat, lantaran ada kendala yang harus dihadapi oleh calon klub peserta Galatama. Terutama urusan klasik, yaitu dana operasional yang besar melebihi dana operasional yang pernah disalurkan ke klub Perserikatan.

Tiba-tiba ada yang berani usul, bagaimana jika seluruh klub Perserikatan ikut berlaga di Galatama untuk meramaikan kompetisi sekaligus menjadi "Penantang" bagi klub-klub independen tersebut. 

Mendengar usulan itu, Ali Sadikin naik pitam dan sekali lagi menegaskan bahwa Galatama itu kompetisi Profesional, bukan kompetisi Amatir. Ali Sadikin menambahkan "Jika Klub Perserikatan ikut Galatama, maka kompetisinya tidak lagi disebut Galatama' melainkan Perserikatan yang cuma ganti baju saja dari golongan amatir ke golongan profesional".

Ali Sadikin enggan menerima klub Perserikatan berlaga di Galatama, alih-alih ingin jadi penantang bagi seluruh peserta kompetisi Galatama yang notabene klub baru. Konteksnya, jika klub Perserikatan mau tampil di Galatama' maka statusnya sebagai klub Perserikatan harus dicabut atau setidaknya mundur dari kompetisi bersangkutan.

Resiko klub Perserikatan bermain di kompetisi Galatama adalah mereka harus berhenti menerima setoran dana dari pemerintah setempat dan mencari sumber dana mereka sendiri dari sponsor' realitanya di era itu belum ada klub sepakbola anggota PSSI yang punya sponsor.

Potensinya, klub Perserikatan bisa bangkrut atau bubar... kalau ikut Galatama karena kompetisi ini diciptakan sebagai pemisah antara politik dan olahraga. Ali Sadikin bercita-cita ingin membuat Sepakbola Indonesia jauh dari unsur politik bahkan netral dari nuansa politik. Itulah sebabnya, kompetisi Galatama diciptakan' Dalam perkembangannya kelak Galatama bisa mengurangi beban PSSI yang terlalu sering memakai pemain-pemain klub Perserikatan lantaran levelnya belum profesional.

Intinya, Ali Sadikin bisa menciptakan Timnas Indonesia yang berisi para pemain hasil seleksi dan pelatnas lewat jalur Galatama. Sampai-sampai ada peserta rapat yang menuding Ali Sadikin ingin menciptakan Timnas Indonesia versinya sendiri, dalam arti versi Galatama untuk menandingi Timnas Indonesia yang selama ini bermaterikan pemain-pemain amatir dari Perserikatan.

Dengan wajah penuh optimisme ia tidak menyangkal tudingan itu' bahwa Ali Sadikin ingin ada Timnas Indonesia versi Galatama dan Timnas Indonesia versi Perserikatan. 

Rapat pun berjalan kacau sehingga Ali Sadikin menghentikan rapat dan melanjutkannya kembali bulan depan.

Bulan berikutnya, dalam rapat lanjutan yang waktu itu kacau' Ali Sadikin menerima laporan pendaftaran mengenai banyak calon peserta kompetisi Galatama yang sebagian besar dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur yang ingin meramaikan musim perdana.

Diantaranya Jayakarta (Klub Internal Persija), Warna Agung (Klub Milik Pabrik Cat Tembok), NIAC Mitra (Klub Dari Surabaya), Tidar Sakti (Klub Dari Magelang), Arseto (Klub Milik Sigit Haryoyudanto, Sekretaris PSSI), Sari Bumi Raya (Klub Yang Beranggotakan Mahasiswa Asal Bandung) dan UMS 80 (Klub Milik Orang Tionghoa).

Tidak hanya itu, klub dari luar Pulau Jawa juga ikut bergabung' diantaranya Jaka Utama dari Lampung dan Perkesa 78 dari Papua (Berdomisili di Bogor). 

Ali Sadikin bingung sekaligus pusing karena seluruh klub peserta sudah kelewat banyak dan hampir dipastikan kompetisi semi profesional yang akan digelar tahun 1979 nanti kurang mendapat perhatian animo masyarakat. 

Lantas PSSI pada saat itu memberitakan bergulirnya Kompetisi Galatama lewat media cetak, televisi dan radio. Khusus untuk media radio, pertandingan disiarkan secara langsung dan liputan hasil pertandingan bisa disimak lewat siaran berita olahraga TVRI.

*****