Rabu, 27 Februari 2019

Puisi : Jangan Paksa Aku

Jangan paksa aku, kembali padamu
Jangan paksa aku, kembali mencintaimu
Bila engkau terus hadirkan janji semu
Bila engkau tetap tumpahkan derita kelabu

Sudah lama kau menuntutku
Bertanggung jawab atas dirimu
Seakan kau selalu mencari kesalahanku
Padahal semua itu memang jelas ulahmu

Harusnya kau malu dihadapan dunia
Karena dirimu selalu memaksa diriku
Kau telan mentah-mentah fitnah yang tiada artinya
Sembari aku mencoba lari dari pandanganmu

Bayangkanlah bila aku tak pernah berjumpa denganmu
Mungkin aku tak pernah alami peristiwa pilu
Atau mungkin takdir yang mempertemukan kita
Untuk saling membenci dan mendengki selamanya

Itu dosa besar, jelas dosa besar
Menuduhku yang bukan-bukan
Itu dosa besar, jelas dosa besar
Tuhan... Mohonkanlah keadilan

Jangan paksa aku, mengakui dirimu
Jangan paksa aku, menjadi pendampingmu

Kamis, 21 Februari 2019

Puisi : Dirimu Diriku

Dirimu dan diriku adalah senyawa yang berarti dalam hidup ini
Cerita asmara yang membara seakan hanguskan masa lalu
Dimana perbedaan bukanlah tembok baja penghalang nurani
Hampa rasanya bila tiada secangkir hangatnya cintamu

Tak bisa kulepas darimu pegangan tanganku
Kokoh selalu bagai akar yang menancap di tanah
Menerjang ombak yang menggoyang imanku
Dilalui dengan kesabaran yang begitu tabah

Selama mentari terbit di ufuk timur
Cinta ini tiada pernah akan luntur
Walau dihantam gempa sampai hancur
Apalagi tertimbun tebalnya tanah lumpur

Saripati cintaku selalu meresap dalam jiwamu
Benih rinduku akan tumbuh dalam hatimu
Renungkanlah ikrarku kepada dirimu
Pahamilah janjiku kepada dirimu

Senin, 04 Februari 2019

Suara Kita : SEJAK KAPAN BIDUAN DANGDUT BERPAKAIAN SEXY ?

 Foto : Nita Thalia bergoyang memakai busana seksi

Pakaian Sexy, sudah terlintas dalam pikiran kita bahwa jenis busana ini lekat dengan keterbukaan pemakainya' terutama bagi wanita.
Di dunia ini banyak wanita mengenakan pakaian sexy untuk menambah daya tarik dan sudah pasti kemudahan memperoleh keuntungan. Tidak terkecuali di dunia seni, Pakaian Sexy adalah busana wajib yang sulit dipisahkan. Lucunya, para pemakai busana tersebut tidak menyadari bahwa mereka telah terjebak dalam arus kehidupan yang sesat.

Di dunia musik Dangdut, Pakaian Sexy sudah menjadi kesan negatif dan kerap dijadikan kambing hitam atas maraknya pelecehan seksual hingga pemerkosaan.
Aneh tapi nyata, itulah kondisi terakhir zaman ini yang lebih mengutamakan kualitas luarnya dibanding dalamnya. Mau tidak mau kita hanya bisa menerima walaupun ini bertentangan dengan ajaran agama.

Hanya karena uang, seorang wanita berani menjadi penyanyi dangdut dan nekat berpakaian sexy agar mudah mencapai popularitas. Mereka melakukan itu dalam keadaan sadar, namun bathin mereka menjerit ingin melepas Pakaian Sexy yang membalut tubuhnya.

Demonstrasi dan Pencekalan terhadap Pakaian Sexy yang dikenakan para Biduanita Melayu sering menimbulkan perpecahan. Ada yang bilang itu bagian dari seni, ada pula yang bilang itu bagian dari teori konspirasi.

Teori Konspirasi mengenai Pakaian Sexy itu dimaknai sebagai penurunan moral dari pemakainya. Dimana seorang wanita yang sejatinya adalah sosok pemalu dan pandai menjaga perasaan justru berubah menjadi sosok blak-blakan hingga tanpa neko-neko mengumbar bagian vitalnya.

Lemahnya pendidikan karakter dan agama menyebabkan wanita yang berprofesi sebagai penyanyi menjadi tidak baik. Alangkah malang nasib pemakainya kalau kehormatan sudah terjual demi selembar kertas merah bertuliskan angka. Biduanita jelas tidak mau seenaknya disalahkan oleh para pembencinya, Para Biduanita dengan penuh perasaan mengatakan bahwa "Kami Bekerja Siang dan Malam Mencari Uang Demi Mewujudkan Mimpi".

Mimpi apakah itu ?
Sudah jelas ingin menjadi orang kaya dan memiliki banyak aset untuk jadi bahan pujian.
Hampir setiap hari kita lihat pemandangan menyedihkan di Panggung Konser, wanita-wanita tidak berdosa harus menelan pil pahit karena dilecehkan secara hormonal.
Alih-alih ingin mendapat bayaran besar, rasa malu dipertaruhkan.

Rasa cinta terhadap harta semakin membuatnya jatuh ke dalam jurang kenistaan. Tapi, tahukah anda... Sejak kapan biduan dangdut berpakaian sexy ?
Hal ini dimulai pada era 90an dimana musik Dangdut mulai mengalami evolusi. Irama musik Rock yang menyatu ke dalam lagu Dangdut justru membuka pintu lebar bagi cara menyajikan penampilan penyanyinya.

Sepanjang sejarah musik Dangdut berkembang, Biduanita Dangdut yang tadinya hanya memakai gaun lengan panjang dengan gaya rambut bersanggul akhirnya mulai jenuh. Bahkan gaya biduan tersebut menyebabkan mereka dicap kampungan, karena kesan itulah timbul sebuah ide untuk mengubah kesan kampungan pada musik Dangdut.
Pakaian Sexy menjadi solusi yang ampuh untuk menarik hati penonton, pada awalnya para biduanita itu ragu bahkan takut dengan apa yang terjadi nanti.
Tapi, lama-lama mereka mulai terbiasa dan akhirnya menjadi keperluan wajib' sayang di sayang apa yang mereka lakukan itu sudah mencoreng nama baik diri sendiri secara visual (penglihatan).

Tuduhan bermacam-macam dari berbagai kalangan, terutama dari kaum yang anti seni. Mereka suka sekali mencari kesalahan Biduanita Dangdut agar hidupnya hancur ditelan nasib.
Gilanya, para pembenci Biduanita Dangdut itu dengan keji mengatakan bahwa supremasi wanita murahan harus dihentikan tanpa kompromi. Inilah yang membuat ketidaknyamanan kian melebar kemana-mana, ujung-ujungnya pencekalan menjadi senjata pembunuh rejeki yang ampuh.
Air mata sulit dibendung, niat hati ingin memperbaiki hidup dengan bekerja justru menjadi petaka bagi pekerja seni. Maraknya kasus berbau seks yang melibatkan Biduanita Dangdut kian menguak betapa besarnya nafsu syahwat tidak bisa diredam hanya dengan peraturan tertulis.

Pakaian Sexy memiliki pengaruh cukup besar bagi industri musik, tetapi Pakaian Sexy yang dikenakan belum tentu menjamin dapat bayaran tinggi.
Yang paling memprihatinkan adalah kecenderungan masyarakat untuk memusuhi seniman terutama Biduanita Dangdut. Lantaran tingkah laku dan ulahnya diatas panggung sering mengundang kebencian. Ada yang bilang sok cantik, sok berpengalaman dan ada yang bilang sok mengerti seluk beluk musik walaupun jadi penyanyi karena terpaksa.

Bagi masyarakat Pakaian Sexy adalah wujud kemunduran moral yang sudah kritis. Menurut pengamat dunia psikologis, Pakaian Sexy kerap dikambing hitamkan atas kasus kejahatan yang dilakukan oleh pemakainya dan orang yang melihatnya.
Pemerkosaan, Prostitusi, Eksploitasi dan Bisnis Busana adalah sarana dalam peningkatan popularitas Pakaian Sexy.

Tidak hanya itu, pandangan anak muda hari ini berbeda dengan tempo dulu yang mana ketika itu moral begitu dijunjung tinggi kedudukannya.
Moral dalam bahasa agama disebut ahlak, karena ahlak terletak pada inti otak manusia' psikologis manusia dikendalikan oleh ahlak. Agama berperan vital dalam mengatasi kecenderungan gaya berpakaian anak muda.

Katanya takut ketinggalan zaman, justru inilah penyesatan budaya yang terjadi akibat merebaknya Pakaian Sexy karena ulah para Biduanita Dangdut.
Otomatis, citra keluarga si biduanita sering dikotori dengan ocehan tidak sedap dari ibu-ibu arisan dan ibu-ibu pengajian.

Entah seberapa parahnya efek dari Pakaian Sexy itu ?
Yang jelas tidak ada kata terlambat untuk menekan angka penyalahgunaan Pakaian Sexy. Dan alangkah baiknya, peliharalah rasa malu demi memperoleh keselamatan.
Menurut Agama, Pakaian Sexy hanya boleh dikenakan untuk menyenangkan muhrimnya (Suami). Sebab, kunci kesetiaan dan kokohnya hubungan suci ada pada hal semacam itu.

Entah siapa yang memulai ?
Tapi baiknya kita cermati pandangan orang konservatif mengenai Pakaian Sexy yang dipakai para Biduanita Dangdut.
Kata mereka (Kaum Konservatif), pakaian model begitu sebaiknya tidak usah dibuat dan dijual. Karena hal itu bisa menyebabkan perubahan pola pikir anak perempuan yang dahulu pemalu kini jadi lebih terbuka (Vulgar).

Celakanya, Kaum Konservatif tersebut mengatakan bahwa para Biduanita Dangdut yang berpakaian terbuka itu sudah dianggap sebagai pengikut iblis.
Sungguh vonis yang merendahkan, itulah pandangan kaum-kaum sok tahu seperti mereka (Kaum Konservatif). Mereka hanya menilai dari luarnya saja tanpa menanyakan lebih dulu kepada pemakainya. Bagi orang yang menyukai seni, Pakaian Sexy adalah sebuah keindahan murni dari sisi visual. Namun, itu cuma sekedar penilaian dari orang-orang yang segolongan (Seniman).

Kali ini kita harus berani berjudi dengan waktu, apakah yang akan terjadi bila musik Dangdut tetap di-identik-kan dengan Pakaian Sexy...?
Mungkin atau Bisa Jadi, Musik hanyalah suara sumbang dari mulut orang yang tidak betah lapar dan Pakaian Sexy cuma sekedar sampah-sampah berserakan yang baunya lebih busuk daripada bangkai.
(Selesai)

Sabtu, 02 Februari 2019

Puisi : Pendosa Durhaka

Hidupmu yang dipenuhi kesenangan belaka
Tiada peduli dengan kenyataan yang ada
Seakan melayang jauh dari jangkauan
Seolah terlepas dari incaran dan tatapan

Kau nikmati kemewahan duniawi
Sehingga dirimu justru lupa diri
Terlena dalam selimut kenikmatan
Hampir saja terjebak rayuan kekuasaan

Kau memang pendosa durhaka
Harta benda semua jadi miliknya
Kau sungguh pendosa durhaka
Nafsu setan kendalikan otaknya

Dimatamu hanya ada kebencian
Demi segenggam kemakmuran
Rakyat jelata kau campakkan
Nurani tidak kau pedulikan

Durhaka itulah dirimu
Pendosa itulah dirimu
Enyahlah engkau dari wajahku
Pergilah engkau dari hadapanku

Puisi : Cinta Kita Abadi

Aku dan kau dalam satu cinta
Aku dan kau dalam satu jiwa
Aku dan kau dalam satu raga
Aku dan kau dalam satu rasa

Tiada perbedaan yang memisahkan
Tiada perbedaan yang menggolongkan

Semua cerita akan jadi nyata
Semua cerita akan jadi bahagia

Cinta kita abadi untuk selamanya
Tiada satu orang yang merubahnya
Kecuali kehendak Yang Maha Kuasa
Tanpa restuNya tak mungkin bahagia

Rabu, 02 Januari 2019

Kisah Arjuna Sasrabahu : Danaraja Ngraman (Episode 05)



 Gambar : Senapati Kartanadi


Sementara itu masih terjadi pertarungan di luar wilayah, Patih Surata dan Senapati Kartanadi sibuk mengusir wadyabala Lokapala.
Patih Banendra sungguh buas, banyak prajurit Mahespati terbunuh akibat kesaktian sang patih.
Patih Banendra tidak akan berhenti menyerang sebelum negeri Mahespati diduduki.
Senapati Kartanadi turut dibuat susah karena mengurus banyak prajurit yang tewas.

Patih Surata tidak tinggal diam, dia mencoba untuk mengalahkan Patih Banendra yang sakti.
Kedua orang Patih ini saling beradu jotos dan serangan terbaik demi mengakhiri pertempuran.
Sayangnya semua berjalan tidak seimbang, Patih Surata terlalu sakti sehingga Patih Banendra mulai didesak. Akhirnya tanpa pikir panjang' Patih Surata melempar tombak ke arah Patih Banendra.
Kemudian terhunuslah tombak itu ke perut Patih Banendra sehingga tewaslah ia berlumuran darah.
Keadaan ini menjadikan semua prajurit Lokapala ketakutan kala pimpinan pasukannya meregang nyawa.

Mereka pun tinggal gelanggang tanpa menunggu perintah karena sudah nyata-nyata kalah.
Kemenangan akhirnya diraih dan semua berjalan sukses meski keadaan tidak begitu baik mengingat banyak prajurit yang gugur di medan pertempuran.
Patih Surata hanya bisa menyaksikan puluhan nyawa bergelimpangan berlumuran darah, itulah suasana menyedihkan dan menyakitkan dalam pertempuran walaupun akhirnya menang.

Cerita berganti di pertapaan Grastina, Dewi Indrandi masih menjaga Dewi Danuwati yang sedang istirahat sembari memulihkan tenaga seusai melahirkan anak.
Tidak lama setelah proses persalinan, Prabu Kartawirya datang menemui istrinya itu yang tergolek lemah tak berdaya' namun masih bisa tersenyum lebar karena sang jabang bayi telah lahir berkat bantuan para bidadari.

Puji syukur dihaturkan kepada Dewata atas bantuan yang berhasil memenangkan pertempuran melawan wadyabala Lokapala.
Kemudian Prabu Kartawirya memberikan nama untuk bayi yang baru lahir itu dengan nama Arjuna Wijaya.
Resi Gotama mengucapkan selamat, ia menilai bahwa nama itu pantas disematkan kepada bayi titisan Dewa Wisnu tersebut.

Kemudian Prabu Kartawirya dan Dewi Danuwati pamit undur diri kembali ke Mahespati sekaligus memastikan bahwa semua aman.
Batara Narada yang juga hadir ikut memberkati kedua pasangan tersebut agar menjadi ayah dan ibu panutan serta mampu mengurus anak.
Kepulangan raja Mahespati dan permaisuri disambut meriah oleh rakyat, iring-iringan dipimpin oleh Patih Surata dan Senapati Kartanadi sambil mengendarai kuda bersama para prajurit yang masih tersisa.

Sementara itu Resi Gotama diberi tugas untuk menjaga Senjata Cakra oleh Batara Narada hingga putra Prabu Kartawirya beranjak dewasa.
Namun, Resi Gotama tidak sanggup melakukan hal itu karena senjata pusaka tersebut terlalu berbahaya untuk digunakan. Akhirnya Resi Gotama menyerahkan Senjata Cakra kembali pada Batara Narada.
Batara Narada memaklumi, lantas dewa bertubuh cebol itu hendak mencari orang yang pantas menjaga senjata tersebut. Lalu, Resi Gotama memberi tahu bahwa ada seorang pertapa bernama Resi Suwandagni yang saat itu sedang dirundung kesusahan.
Mendengar berita dari Resi Gotama, Batara Narada pamit untuk mencari Resi Suwandagni yang sedang susah hati.

Cerita berganti di lain tempat, dimana pada hari itu di sebuah padepokan yang bernama pertapaan Ardisekar terdapat seorang brahmana bernama Resi Suwandagni.
Sang resi pada saat itu sedang susah dan sedih karena sang istri tidak kunjung memperoleh keturunan meski lama menikah.
Siang malam Resi Suwandagni berdoa kepada dewata agar istrinya dikaruniai keturunan yang bisa menjadi orang-orang sakti dan berbudi pekerti luhur.

Lalu, dari atas langit datanglah Batara Narada menemui Resi Suwandagni yang sedang bertapa memohon bantuan dewata.
Resi Suwandagni menyambut kedatangan Batara Narada dengan penuh hormat dan suka cita, karena merasa terkabul semua permohonannya.

Begitu muncul dihadapan Resi Suwandagni, Bathara Narada menyerahkan Senjata Cakra kepada sang pertapa sebagai sarana untuk memperoleh keturunan.
Resi Suwandagni heran, bukannya diberi obat atau ramuan yang manjur justru malah diberi anugerah berupa pusaka kahyangan.

Bathara Narada menjelaskan bahwa Senjata Cakra juga mempunyai daya magis untuk mengobati segala macam penyakit dan menghidupkan orang yang sudah mati.
Maka percayalah Resi Suwandagni dengan ucapan Bathara Narada, kemudian diterimalah pusaka ampuh itu dengan hati-hati.
Seusai diberi pusaka, Resi Suwandagni berterima kasih dan segera Bathara Narada undur diri dari hadapan kembali ke kahyangan.

(Bersambung)

Rabu, 05 Desember 2018

Puisi : Bertemu Untuk Berpisah

Sejak dahulu kau mengetahui
Justru kini aku mengerti
Dimana ada pertemuan
Disana ada perpisahan

Saling merindukan
Saling mendambakan
Malah menjadi kebencian
Malah menjadi kehancuran

Mengapa aku harus berjumpa ?
Dengan dirimu yang kini pergi
Mengapa kau harus berjumpa ?
Dengan diriku yang kini sendiri

Haruskah aku melupakan segala kenangan ?
Kenangan yang terukir dalam hikayat asmara
Haruskah aku meninggalkan segala kenangan ?
Kenangan yang tergambar dalam lukisan bahagia

Inikah takdir yang harus diterima
Walau masih ada harapan bersama
Engkau pergi dengan kebencian di hati
Mengubur mimpi untuk bersama kembali