Jumat, 31 Januari 2020

Kisah Arjuna Sasrabahu : Runtuhnya Kerajaan Martikawata (Episode 09)

Kemarahan Wasi Bargawa memuncak saat prajurit yang diancam itu tidak menggubris kata-katanya.
Segera dibanting dan ditendang perutnya tanpa ampun. Sontak, prajurit-prajurit yang melihat rekannya dianiaya lantas mengeroyok Wasi Bargawa.
Akan tetapi meski jumlah prajurit yang mengeroyok cukup banyak, kekuatan Wasi Bargawa yang setara dengan 1000 ekor Gajah berhasil membubarkan pasukan.
Mereka terpelanting jauh hingga menimpa sesama prajurit. Wasi Bargawa mengamuk tanpa ampun, semua prajurit yang melawannya tidak berhasil mengalahkan kedigdayaan putra Begawan Jamadagni itu.

Tanpa ampun, Wasi Bargawa mengobrak-abrik seluruh isi keraton.
Kemarahannya sudah melampaui batas, apalagi kalau sampai keluarganya ada yang teraniaya hingga tewas' maka kemurkaannya makin menjadi-jadi.
Tidak tanggung-tanggu tumpas sudah seluruh prajurit negeri Martikawata ditangan satu orang Wasi Bargawa.
Masuk ke dalam, Wasi Bargawa mendatangi pasewakan agung dimana Prabu Hehaya sedang berkumpul. Sontak, semua orang ketakutan melihat kehadiran putra Begawan Jamadagni itu.

Bahkan prajurit yang berjaga-jaga di dalam ikut lari tunggang langgang. Prabu Hehaya menghampiri Wasi Bargawa dan mengajaknya bicara secara baik-baik.
Tapi, Wasi Bargawa menolaknya sebab semua sudah jelas. Prabu Hehaya tahu bahwa kehadiran pertapa muda itu jelas menanyakan rusaknya pertapaan.
Prabu Hehaya dengan penuh terus terang mengatakan bahwa dirinyalah yang menyerang seluruh isi pertapaan dan membunuh banyak penghuninya.
Prabu Hehaya berdalih bahwa penyerangan itu dilakukan karena orang-orang pertapaan Jatisrana tidak mau membeberkan penyebab tewasnya Prabu Citrarata, raja Martikawata terdahulu.
Tanpa basa-basi maka dihabisilah seluruh penghuni pertapaan tanpa sisa, termasuk Begawan Jamadagni.

Sontak, Wasi Bargawa murka mendengar penjelasan Prabu Hehaya.
Wasi Bargawa mengamuk tanpa ampun dan meluluh lantak seluruh isi keraton tanpa sisa.
Tebasan kapak besarnya membuat tiang penyangga balai pertemuan roboh dan menimpa sejumlah orang yang berada di sana.
Prabu Hehaya kabur dari keraton dan bersembunyi di negeri-negeri tetangga. Akan tetapi, sekali pun kabur akan terciduk juga.
Prabu Hehaya dihabisi sebagai tumbal kebencian atas para kesatria. Seusai menghabisi nyawa Prabu Hehaya, Wasi Bargawa kembali ke pertapaan dan mengubur seluruh jenazah korban pembantaian prajurit Martikawata.
Kebencian Wasi Bargawa tidak akan berhenti sampai seluruh ksatria di muka bumi punah tanpa sisa.

Itulah sekelumit cerita yang diutarakan oleh Wasi Bargawa kepada Wasi Suwandagni, saudara tuanya.
Wasi Bargawa diminta untuk berhenti memusuhi para ksatria, tetapi nasehat Wasi Suwandegni tidak akan pernah dituruti karena terlanjur benci sampai ke ubun-ubun.

Setelah mengunjungi saudara tuanya, Ramabargawa memutuskan untuk pergi berkelana untuk menegakkan dharma.
Ia berpesan kepada Suwandageni untuk tetap menjaga keluarganya, jangan sampai terjerumus dalam kefanaan duniawi terutama kekuasaan.
Sambil membawa kapak besarnya, Ramabargawa pergi dengan langkah tegap dan tatapan ke arah depan.

(Bersambung)

Rabu, 25 Desember 2019

Lirik Lagu Tegalan : Duwe Duwe Ora Duwe (Krisis Ekonomi)

Duwe duwe ora due
Kudu sing akeh prihatine
Urip ning jaman saiki
Sing diarani krisis ekonomi

Usaha tetep usaha
Kanggo nafkahi keluarga
Susah payah dilakoni
Olih setitik tetep disukuri

Duwe duwe ora duwe...

Krisis... krisis...
Krisis... krisis...
Krisis ekonomi

Sandang pangan
Pupuk larang
Kabeh serba larang

Krisis... krisis...
Krisis... krisis...
Krisis ekonomi

Dollar mundak
Duit murah
Rega ora nggenah

Pengangguran pating slebar
Pegawean luruh susah

Kamis, 05 Desember 2019

Puisi : Abadi

 Foto : Maria Vania



Separuh jiwaku hanya untukmu
Separuh ragaku hanya untukmu
Tiada seorang pun selain dirimu
Tiada satu pun selain dirimu

Hari demi hari kita lalu bersama
Dalam suka mau pun duka
Kerja keras bersama
Banting tulang bersama

Suara tawa hingga air mata
Mewarnai kehidupan kita
Aku bersyukur kita masih bersama
Walau hidup serba apa adanya

Tiada kata menyerah meraih cita-cita
Untuk bahagia selama-lamanya

Tuhan, restuilah cinta kita
Untuk hidup lebih lama

Jangan ada lagi pertentangan
Diantara kita berdua

Sampai kiamat tiba, kita berdua tetap selalu bersama
Sampai akhir dunia, kita berdua berlindung dibawah cinta

Abadi dalam ikatan cinta
Abadi dalam kisah asmara
Abadi menuju alam baka
Abadi menuju cinta yang sempurna