Sabtu, 02 Februari 2019

Puisi : Pendosa Durhaka

Hidupmu yang dipenuhi kesenangan belaka
Tiada peduli dengan kenyataan yang ada
Seakan melayang jauh dari jangkauan
Seolah terlepas dari incaran dan tatapan

Kau nikmati kemewahan duniawi
Sehingga dirimu justru lupa diri
Terlena dalam selimut kenikmatan
Hampir saja terjebak rayuan kekuasaan

Kau memang pendosa durhaka
Harta benda semua jadi miliknya
Kau sungguh pendosa durhaka
Nafsu setan kendalikan otaknya

Dimatamu hanya ada kebencian
Demi segenggam kemakmuran
Rakyat jelata kau campakkan
Nurani tidak kau pedulikan

Durhaka itulah dirimu
Pendosa itulah dirimu
Enyahlah engkau dari wajahku
Pergilah engkau dari hadapanku

Puisi : Cinta Kita Abadi

Aku dan kau dalam satu cinta
Aku dan kau dalam satu jiwa
Aku dan kau dalam satu raga
Aku dan kau dalam satu rasa

Tiada perbedaan yang memisahkan
Tiada perbedaan yang menggolongkan

Semua cerita akan jadi nyata
Semua cerita akan jadi bahagia

Cinta kita abadi untuk selamanya
Tiada satu orang yang merubahnya
Kecuali kehendak Yang Maha Kuasa
Tanpa restuNya tak mungkin bahagia

Rabu, 02 Januari 2019

Kisah Arjuna Sasrabahu : Danaraja Ngraman (Episode 05)



 Gambar : Senapati Kartanadi


Sementara itu masih terjadi pertarungan di luar wilayah, Patih Surata dan Senapati Kartanadi sibuk mengusir wadyabala Lokapala.
Patih Banendra sungguh buas, banyak prajurit Mahespati terbunuh akibat kesaktian sang patih.
Patih Banendra tidak akan berhenti menyerang sebelum negeri Mahespati diduduki.
Senapati Kartanadi turut dibuat susah karena mengurus banyak prajurit yang tewas.

Patih Surata tidak tinggal diam, dia mencoba untuk mengalahkan Patih Banendra yang sakti.
Kedua orang Patih ini saling beradu jotos dan serangan terbaik demi mengakhiri pertempuran.
Sayangnya semua berjalan tidak seimbang, Patih Surata terlalu sakti sehingga Patih Banendra mulai didesak. Akhirnya tanpa pikir panjang' Patih Surata melempar tombak ke arah Patih Banendra.
Kemudian terhunuslah tombak itu ke perut Patih Banendra sehingga tewaslah ia berlumuran darah.
Keadaan ini menjadikan semua prajurit Lokapala ketakutan kala pimpinan pasukannya meregang nyawa.

Mereka pun tinggal gelanggang tanpa menunggu perintah karena sudah nyata-nyata kalah.
Kemenangan akhirnya diraih dan semua berjalan sukses meski keadaan tidak begitu baik mengingat banyak prajurit yang gugur di medan pertempuran.
Patih Surata hanya bisa menyaksikan puluhan nyawa bergelimpangan berlumuran darah, itulah suasana menyedihkan dan menyakitkan dalam pertempuran walaupun akhirnya menang.

Cerita berganti di pertapaan Grastina, Dewi Indrandi masih menjaga Dewi Danuwati yang sedang istirahat sembari memulihkan tenaga seusai melahirkan anak.
Tidak lama setelah proses persalinan, Prabu Kartawirya datang menemui istrinya itu yang tergolek lemah tak berdaya' namun masih bisa tersenyum lebar karena sang jabang bayi telah lahir berkat bantuan para bidadari.

Puji syukur dihaturkan kepada Dewata atas bantuan yang berhasil memenangkan pertempuran melawan wadyabala Lokapala.
Kemudian Prabu Kartawirya memberikan nama untuk bayi yang baru lahir itu dengan nama Arjuna Wijaya.
Resi Gotama mengucapkan selamat, ia menilai bahwa nama itu pantas disematkan kepada bayi titisan Dewa Wisnu tersebut.

Kemudian Prabu Kartawirya dan Dewi Danuwati pamit undur diri kembali ke Mahespati sekaligus memastikan bahwa semua aman.
Batara Narada yang juga hadir ikut memberkati kedua pasangan tersebut agar menjadi ayah dan ibu panutan serta mampu mengurus anak.
Kepulangan raja Mahespati dan permaisuri disambut meriah oleh rakyat, iring-iringan dipimpin oleh Patih Surata dan Senapati Kartanadi sambil mengendarai kuda bersama para prajurit yang masih tersisa.

Sementara itu Resi Gotama diberi tugas untuk menjaga Senjata Cakra oleh Batara Narada hingga putra Prabu Kartawirya beranjak dewasa.
Namun, Resi Gotama tidak sanggup melakukan hal itu karena senjata pusaka tersebut terlalu berbahaya untuk digunakan. Akhirnya Resi Gotama menyerahkan Senjata Cakra kembali pada Batara Narada.
Batara Narada memaklumi, lantas dewa bertubuh cebol itu hendak mencari orang yang pantas menjaga senjata tersebut. Lalu, Resi Gotama memberi tahu bahwa ada seorang pertapa bernama Resi Suwandagni yang saat itu sedang dirundung kesusahan.
Mendengar berita dari Resi Gotama, Batara Narada pamit untuk mencari Resi Suwandagni yang sedang susah hati.

Cerita berganti di lain tempat, dimana pada hari itu di sebuah padepokan yang bernama pertapaan Ardisekar terdapat seorang brahmana bernama Resi Suwandagni.
Sang resi pada saat itu sedang susah dan sedih karena sang istri tidak kunjung memperoleh keturunan meski lama menikah.
Siang malam Resi Suwandagni berdoa kepada dewata agar istrinya dikaruniai keturunan yang bisa menjadi orang-orang sakti dan berbudi pekerti luhur.

Lalu, dari atas langit datanglah Batara Narada menemui Resi Suwandagni yang sedang bertapa memohon bantuan dewata.
Resi Suwandagni menyambut kedatangan Batara Narada dengan penuh hormat dan suka cita, karena merasa terkabul semua permohonannya.

Begitu muncul dihadapan Resi Suwandagni, Bathara Narada menyerahkan Senjata Cakra kepada sang pertapa sebagai sarana untuk memperoleh keturunan.
Resi Suwandagni heran, bukannya diberi obat atau ramuan yang manjur justru malah diberi anugerah berupa pusaka kahyangan.

Bathara Narada menjelaskan bahwa Senjata Cakra juga mempunyai daya magis untuk mengobati segala macam penyakit dan menghidupkan orang yang sudah mati.
Maka percayalah Resi Suwandagni dengan ucapan Bathara Narada, kemudian diterimalah pusaka ampuh itu dengan hati-hati.
Seusai diberi pusaka, Resi Suwandagni berterima kasih dan segera Bathara Narada undur diri dari hadapan kembali ke kahyangan.

(Bersambung)

Rabu, 05 Desember 2018

Puisi : Bertemu Untuk Berpisah

Sejak dahulu kau mengetahui
Justru kini aku mengerti
Dimana ada pertemuan
Disana ada perpisahan

Saling merindukan
Saling mendambakan
Malah menjadi kebencian
Malah menjadi kehancuran

Mengapa aku harus berjumpa ?
Dengan dirimu yang kini pergi
Mengapa kau harus berjumpa ?
Dengan diriku yang kini sendiri

Haruskah aku melupakan segala kenangan ?
Kenangan yang terukir dalam hikayat asmara
Haruskah aku meninggalkan segala kenangan ?
Kenangan yang tergambar dalam lukisan bahagia

Inikah takdir yang harus diterima
Walau masih ada harapan bersama
Engkau pergi dengan kebencian di hati
Mengubur mimpi untuk bersama kembali

Puisi : Hitam Katamu, Putih Kataku

Kau dan aku sulit berpadu
Kau dan aku sulit bersatu
Hanya karena berbeda selera
Cuma karena berbeda rasa

Rasanya tidak akan lama
Kisah diantara kita berdua
Perbedaan yang amat jauh panggangnya
Perbedaan yang amat dekat parahnya

Hitam katamu putih kataku
Hitam hatimu putih hatiku
Hitam cintamu putih cintaku
Hitam nasibku putih nasibmu

Akhiri saja malam ini
Akhiri saja cinta ini
Lupakan saja semua mimpi
Lupakan saja semua janji

Aku malas mendengar ocehanmu
Aku malas melihat wajahmu
Malas... Malas... Malas...

Aku benci membaca suratmu
Aku benci melihat tingkahmu
Benci... Benci... Benci...

Puisi : Selamat Siang


Selamat siang, waktunya makan
Tapi jangan sampai ketinggalan
Kalau ketinggalan bisa kehabisan
Selamat siang, waktunya rehat

Tapi jangan sampai terlewat
Kalau terlewat bisa gawat

Aku disini menatap jarum jam
Menanti dirimu sampai lebam

Hingga mentari terbenam
Urusan malah jadi runyam
Cobalah mengerti aku disini
Diselimuti rasa yang sunyi

Walau sampai akhir nanti
Aku takkan berhenti sama sekali

Puisi : Nyanyian Seorang Pendosa

Foto : Yusuf Martak

Katanya di negeriku banyak orang bodoh
Mereka selalu bertindak ceroboh
Korupsi bukan suatu rahasia lagi
Anak kecil sampai orang dewasa tiada peduli

Oh, inikah masa depan bangsaku ?
Dimanakah moral yang selama ini berlaku ?
Mungkinkah negeri ini dihuni para pendosa
Kerjanya makan uang rampasan kaum dhuafa

Hidup mewah layaknya seorang dewa
Sok kuasa bertindak semau hatinya
Oh, inikah masa depan bangsaku ?
Semakin lama semakin jauh dari rasa malu

Biarlah Tuhan yang menghukum mereka saja
Karena pendosa berhak atas masa depannya
Tinggal waktu yang akan menjawabnya
Entah dibuang ke surga atau ke neraka