Minggu, 08 April 2018

Puisi : Wabah

Air hujan turun ke pemukiman
Banjir menggenang damainya kehidupan
Wabah penyakit datang silih berganti
Menggerogoti jiwa tanpa henti

Bencana melanda seakan jadi tamparan
Namun manusia malah perduli setan
Nyawa melayang akibat wabah dimana-mana
Cerita kelabu berbalut kain nestapa

Awan mendung menutupi sinar mentari
Bumi menangis tersiksa oleh manusia sendiri
Lalat-lalat hijau menciumi kulit yang terluka
Aroma busuk nan tengik melayang di angkasa

Rasa sakit tiada mampu terobati
Uluran tangan tak kunjung tiba
Karena sibuk dengan urusan pribadi
Kaya harta gono-gini jadi lupa diri

Jumat, 09 Maret 2018

Puisi : Kebakaran Jenggot

Aku ingin meluapkan semua amarah di dalam dada
Kala melihat kenyataan yang menyesakkan dada
Pisau belati menggengap erat di tangan

Siap menikam untuk memakan korban

Aku tidak peduli resikonya
Yang jelas inilah saatnya
Lebih baik segera saja
Tidak perlu berlama-lama
Hancurnya moral karena revolusi sosial
Runtuhnya nurani karena revolusi harga diri
Terbakar sudah jenggotku mendengar itu
Tanpa pikir panjang aku hadapi semua itu
Rasanya ingin muntah saja
Hampir ingin pingsan saja
Jengah kudengar ocehannya
Ingin sekali kubunuh dirinya

Puisi : Selalu Sendiri

Mengapa hidupku selalu sendiri
Menanti kasih sayang malam ini
Sampai kapan aku harus begini

Sampai kapan aku terus begini

Kemana pun selalu sendiri
Tiada teman pun berada disini
Semua orang tak mau peduli
Bahkan mereka malah memaki
Makan siang makan malam
Tidur siang tidur malam
Hanya ada sepiring nasi dan secangkir kopi dimeja
Hanya ada selimut dan bantal guling saja
Jatuh cinta sendiri, orang lain tak menyadari
Sakit hati sendiri, orang lain tak perduli
Hidup tersesat tanpa tujuan
Melaju ikuti roda kehidupan
Kucoba bertanya pada Tuhan
Sampai kapan harus kurasakan

Puisi : Galau Tingkat Dewa

Betapa galau hatiku ini
Saat kekasih telah pergi
Luka membekas di hati

Seolah bagai menertawai

Pusing tujuh keliling kepalaku ini
Setelah ditinggal pergi malam ini
Membekas di hati hingga terukir
Membuatku berat untuk berfikir
Akal sehatku semakin kelam
Bagai perahu hendak tenggelam
Kala kuingat wajahnya yang muram
Bibirku yang terbuka akhirnya diam
Terlanjur cinta berakhir duka
Kurasakan galau tingkat dewa
Sudah mestinya hati ini terluka
Kemanakah perasaan kubawa
Kubasuh wajahku menyebut namaNya
Kukatakan keluh kesahku kepadaNya
Semoga ada jalan keluarnya
Agar segera tuntas semuanya

Puisi : Kisah Seorang Pelakor

 Foto : Zoya Amirin
Bukan kubermaksud untuk jahat
Kuhanya ingin meraih bahagia
Sejak ayah bunda di liang lahat
Hidupku sungguh terlunta-lunta
Makan dan minum selalu kuminta
Namun bukan cinta yang kuminta
Kesejahteraan selalu kuminta
Bukan kehinaan yang kuminta
Aku lapar bukan karena cinta
Aku haus bukan karena cinta
Justru dirinyalah yang lapar
Malah dirinyalah yang lapar
Dia mencintaiku karena iba
Dia menyayangiku karena iba
Entah semua ini adalah takdir
Walaupun kuanggap bukan takdir
Semua yang dia punya
Demi kehidupanku juga
Aku hanya ingin bahagia
Walaupun tanpa cinta
Aku mengerti, kau kecewa
Aku mengerti, kau merana
Karena diriku semua jadi bencana
Karena diriku semua jadi petaka
Aku sadari kini sudah terlambat
Akibat nafsu birahi yang hebat
Tergadai sudah kehormatanku
Terjual sudah hati nuraniku
Caci maki menghiasi kehidupanku
Bahkan kekerasan menghantuiku
Ini semua karena urusan perutku
Sehingga hancur masa depanku
Tuhan, jangan kau buang dia ke neraka
Hanya karena aku menyayanginya
Tuhan, lemparkan saja aku ke neraka
Hanya karena aku mencintainya

Sabtu, 17 Februari 2018

Puisi : Rumah Kontrakan

Betapa banyak cerita kehidupan
Di sebuah rumah kontrakan
Menjalani kerasnya kehidupan
Demi mencari kebahagiaan

Susahnya hidup di zaman sekarang
Kalau mau menang harus curang
Apalagi sampai mengurus bayaran
Tidak cukup banyak untuk sebulan

Ketika hujan turun ke bumi
Membasahi keringnya nurani
Atap dan plafon bocor ditumpahi air hujan
Itulah romantika di rumah kontrakan

Kadang lupa bayar uang sewaan
Ditagih sampai diomeli seharian
Kalau tidak bayar pasti diusir
Jika bertemu rasanya ingin mangkir

Terkadang harus begini, hidup susah tanpa henti
Tak bisa kuingkari, kenyataan yang terjadi
Meskipun harus malu, nasib tak kunjung berlalu
Derita yang pilu, semoga jadi masa lalu

Puisi : Semua Sudah Terlambat

Harapan tinggal harapan
Impian tinggal impian
Bayangan tinggal bayangan
Khayalan tinggal khayalan

Tidak perlu lagi dipikirkan
Semua sudah terlambat
Tidak perlu lagi dipedulikan
Semua sudah terlambat

Apa yang selama ini terucap
Hanya tinggal sebutir janji
Kini semuanya telah terungkap
Cinta ini tidak bisa dimiliki