Minggu, 09 September 2018

Puisi : Hijaunya Alam


Bukit gundul tanpa pepohonan
Kini terlihat mengkhawatirkan
Lebatnya rumput tinggal kenangan
Terik mentari membakar seluruh hutan

Terdiam membisu aku termenung
Dunia menjerit wajahnya murung
Hijaunya alam itulah mimpiku
Hijaunya bumi itulah harapanku

Ku tak ingin terulang lagi
Hancurnya alam karena bencana
Ku tak ingin terjadi lagi
Terlantarnya alam karena manusia

Puisi : Entah Dimana ?


Aku bingung sendiri
Aku kecewa sendiri
Aku terpuruk sendiri
Aku menangis sendiri

Di Depan Kedua Mataku
Kau Menghilang Jauh
Di Dalam Relung Hatiku
Kau Menghilang Jauh

Entah Dimana Kau Berada
Entah Dimana Kau Bersembunyi
Kucari, Kunanti, Kuhadapi
Kucari, Kunanti, Kuhadapi

Kenyataan ini, Rintangan ini
Pasti akan kulewati sendiri

Puisi : Pantat Berkarat


Foto : Via Vallen

Menari-nari sambil bernyanyi
Suara buruk tiada peduli
Uang mengalir ke rekening pribadi
Asal perut selalu terisi

Malam menjelang udara dingin
Diluar banyak penjilat berdarah dingin
Lagi-lagi terlihat disana
Gemerlap lampu panggung menyala

Setan tertawa terbahak-bahak
Riasan wajah terlihat galak
Mau sampai kapan ini terjadi
Pantat berkarat menjijikan sekali

Tiada peduli ocehan masyarakat
Walaupun diri dianggap bangsat
Goyang pantat, pantat berkarat
Lebih berharga dari emas 24 karat

Puisi : Kejamnya Dunia


Sudah lama kujalani hidup ini
Namun tiada berubah nasib ini
Berbagai macam cara dilakukan
Bahkan sampai rela jadi korban

Makan asam garam
Minum air raksa
Mandi keringat darah
Tidur berselimut derita

Rasanya alangkah membosankan
Merasakan kejamnya dunia fana
Harga diri kini telah tergadaikan
Demi sebuah kenikmatan sementara

Puisi : Bayangan & Harapan


Perkataanmu sungguh meyakinkan
Namun berujung menyakitkan
Perbuatanmu begitu mengagumkan
Malah akhirnya menjadi memilukan

Aku sangat percaya padamu
Sejak awal aku yakin padamu
Janji tempo hari kuingat selalu
Hingga terbawa angin lalu

Kalau saja aku tidak meyakinimu
Mungkin tiada kata sesal dihatiku
Semua itu hanya bayang semu
Semua itu hanya harapan palsu

Jumat, 07 September 2018

Puisi : Hanya Ada Satu Kata

Keadaan semakin tak menentukan
Ketika bangkai-bangkai berserakan
Seakan tak mampu melawan
Namun itu bukanlah suatu alasan

Percikan api membakar nurani
Hanguskan jiwa raga insani
Kotoran menempel dan berbekas
Ayo bangkit, janganlah malas

Hanya ada satu kata
Untuk bangunkan raga
Hanya ada satu kata
Untuk dinginkan jiwa

Maju terus pantang mundur
Jangan kabur apalagi tersungkur
Cinta kasih kini hancur lebur
Nasi sudah menjadi bubur

Hanya ada satu kata
Lawan... Lawan... Lawan... !
Hanya ada satu kata
Lawan... Lawan... Lawan... !

Perjuangan belum usai
Tak pantas kita lalai
Bukan waktunya berandai-andai
Apalagi sampai jatuh terbuai

Puisi : Kembali Bersemi

Kering kerontang seluruh jiwaku
Menanti hujan turun lebat nan deras
Gersang membentang seluruh ragaku
Menanti hujan basahi tubuhku yang panas

Seakan tiada arti, aku jalani semua ini
Bila keadilan kembali, pasti aku akan mencari lagi

Kehidupan sunyi tanpa kawan
Mencengkram seluruh perasaan
Gusar sudah konsentrasi di otak ini
Melihat kebodohan sudah jadi suratan

Ingin rasanya melawan ketidakadilan ini
Namun semua itu sulit untuk diwujudkan
Kembali bersemi impian yang dulu terpendam
Hingga akhirnya berbuah menjadi dendam

Kembali bersemi harapan yang dulu terbayang
Semoga nanti akan datang waktu yang gemilang

Bercumbu dengan waktu
Melepas sisa-sisa masa lalu
Mencoba keluar dari jalan buntu
Demi tuntaskan kisah yang pilu