Batara Guru mulai was-was jika Jurus Rawarontek muncul dimedan perang karena bisa membahayakan semua orang.
Lantas, Batara Guru memerintahkan Batara Narada untuk datang ke
Pertapaan Grastina dimana Dewi Danuwati berada. Tugasnya sudah jelas,
ialah membantu istri Prabu Kartawirya bersalin dengan bantuan para
Bidarari sebagai bidan.
Batara Narada segera memenuhi perintah, patih para dewa itu turun ke bumi bersama para bidadari menuju Pertapaan Grastina.
Cerita berganti di pertapaan Grastina, Resi Gotama dan Dewi Indradi
masih mengawasi kondisi kesehatan Dewi Danuwati yang mulai labil akibat
kontraksi.
Resi Gotama berharap kondisi permaisuri Prabu
Kartawirya baik-baik saja, tapi rupanya diluar perkiraan sang dewi mulai
merasakan sakit yang teramat sangat.
Resi Gotama memerintahkan
Dewi Indradi menenangkan Dewi Danuwati yang mulai kesakitan, suara
teriakan semakin nyaring terdengar.
Untungnya
Batara Narada datang tepat waktu, bersama para bidadari dewa bertubuh
cebol itu mengunjungi Resi Gotama yang sedang khawatir.
Resi
Gotama menghaturkan sembah, Batara Narada menerima sembah sang Begawan.
Kali ini tujuan Batara Narada ke bumi adalah turut membantu kelahiran
Dewi Danuwati. Resi Gotama cukup senang dengan apa yang ditawarkan oleh
Batara Narada.
Tanpa basa-basi, Batara Narada segera memerintahkan para bidadari memproses persalinan Dewi Danuwati agar cepat selesai.
Suasana dramatis mewarnai jalannya proses persalinan, Dewi Danuwati
mulai menjalani tahap demi tahap persalinan yang menyakitkan.
Keringat dan jerit menjadi bumbu yang tidak bisa terlepas, para bidadari
dengan cekatan dan telaten berhasil membuat Dewi Danuwati sukses
melahirkan seorang anak.
Sesuai ramalan, anak yang lahir berjenis
laki-laki dengan cahaya berkilau. Bisa jadi anak yang baru lahir itu
adalah titisan Batara Wisnu.
Kemudian setelah semuanya berlalu, para bidadari melapor kepada Batara Narada bahwa persalinan telah usai dan berjalan sukses.
Lalu, Resi Gotama dan Dewi Indrandi ikut masuk ke dalam menemui Dewi
Danuwati. Mereka berdua memuji syukur atas keselamatan sang dewi,
rupanya tidak hanya sang bayi yang lahir tetapi juga munculnya sebuah
senjata sakti.
Resi Gotama mengambil senjata sakti itu disamping
sang bayi, pertapa tua itu mengatakan bahwa senjata sakti ini adalah
milik Batara Wisnu.
Batara
Narada segera memerintahkan Resi Gotama untuk mengirim senjata itu
kepada Prabu Kartawirya yang sedang bertempur guna mengusir wadyabala
Lokapala.
Resi Gotama pun lantas berangkat ke medan perang
menemui Prabu Kartawirya. Cerita berganti, kali ini di medan perang'
Prabu Kartawirya dengan gesit melakukan serangan-serang
an terhadap Prabu Danaraja.
Keduanya saling beradu kesaktian, tidak jarang banyak prajurit dari kedua belah pihak yang terkena sisa serangan.
Ada yang terbakar tubuhnya, ada yang patah kakinya, ada yang putus leher dari kepalanya dan ada yang buntung kedua tangannya.
Dampak dari pertarungan itu menyebabkan korban berjatuhan dari kedua
belah pihak. Nyatanya dua raja besar itu tidak ada yang mau mengalah.
Untuk mengakhiri pertarungan, Prabu Kartawirya menggunakan senjata
pusaka berupa anak panah. Dilepaskanlah anak panah itu dan tepat menebas
leher Prabu Danaraja. Hebatnya, Prabu Danaraja tidak bisa mati karena
tubuhnya dilindungi oleh Aji Rawarontek yang membuat organ tubuhnya
kembali bersatu seperti sedia kala.
Tidak kehilangan akal, Prabu
Kartawirya kembali melepas anak panah yang jumlahnya lebih banyak. Satu
per satu banyak anak panah yang melukai tubuh Prabu Danaraja.
Kedua tangan dan kaki jebol terhempas anak panah, bahkan kepala sang
prabu juga ikut jebol terhempas pula. Tetapi, sekali lagi Aji Rawarontek
bekerja cepat dan kembali utuh kedua tangan maupun kaki hingga
kepalanya.
Prabu Kartawirya begitu jengkel menyaksikan
pemandangan yang tidak lazim itu. Ia berganti senjata dari busur ke
senjata keris pusaka.
Raja Mahespati itu mencoba bertarung secara
dekat agar bisa mencari titik lemahnya. Namun, berkali-kali ditusuk
bahkan ditebas sekali pun' Prabu Danaraja begitu digdaya tiada tanding.
Prabu Danaraja amat sakti, ia tidak bisa dikalahkan begitu saja.
Pasukan dari pihak Mahespati mulai khawatir jika raja mereka akan kalah dalam pertempuran.
Prabu Kartawirya semakin nekat, ia akhirnya berani menghadapi raja Lokapala itu dari jarak dekat.
Maka adu hantam tidak terhindarkan, tebasan keris melukai tubuh Prabu Danaraja hingga darah mengalir seperti tetesan air hujan.
Meski sudah dilukai, raja Lokapala putra Begawan Wisrawa itu masih terlihat tangguh bahkan jumawa.
Prabu Kartawirya mulai putus asa karena berkali-kali menyerang tidak kunjung berhasil.
Lalu, dari arah belakang' muncul Resi Gotama membantu Prabu Kartawirya
dengan membawa senjata cakra. Alangkah gembiranya Prabu Kartawirya
setelah diberi bantuan, maka sang prabu kembali bertarung.
Melihat Prabu Kartawirya membawa senjata cakra, Prabu Danaraja jadi
teringat pesan kakeknya yakni Prabu Lokawana raja Lokapala terdahulu.
Mendiang Prabu Lokawana pernah bercerita bahwa kelak akan muncul
ksatria penitisan Bathara Wisnu dengan membawa senjata cakra untuk
menumpas angkara murka.
Prabu Danaraja mulai ketakutan, ia memerintahkan seluruh pasukan untuk mundur agar tidak merasakan kedahsyatan senjata cakra.
Seluruh wadyabala Lokapala mundur atas perintah Prabu Danaraja karena melihat bantuan datang bagi Prabu Kartawirya.
Akhirnya pertarungan pun dimenangkan tanpa harus mengorbankan lebih banyak korban.
Meski begitu, Prabu Kartawirya masih khawatir jika mereka kembali lagi
menduduki bumi Mahespati. Namun, Resi Gotama menjamin bahwa semua
masalah keamanan tidak akan mengacaukan kedamaian di masa mendatang.